Puisi-Puisi Supali Kasim
Permainan Gawai
aku kini gawai, tubuhku gawai
seluruh anatomi dan jaringan sel saraf
seperti rupa bumi
panorama raga
lalu anak-anakku, diam-diam, mencuri-curi
terkilau cahaya
pada lorong-lorong gim, video, animasi
betapa tak mampu menahan
baterai lemah, kapasitas terbatas
aku kini gawai, Cupu Manik Astagina
seluruh konektivitas dan perangkat lunak-keras
seperti Batara Surya
sinyal Dewi Windradi
lalu tiga anak itu, diam-diam, mencuri-curi
terpukau semesta
kejernihan, keajaiban, Telaga Sumala
betapa gawai menyedotnya
jiwa berubah, kulit jadi kera
aku kini sesal, dalam daring sesal
seluruh aplikasi dan sinkronisasi
seperti nirkabel
diam-diam merasuk Anjani, Subali, Sugriwa
diri sendiri, terpukau
gawai di tangan, semesta telah memainkan
betapa aku, betapa Resi Gotama
dengan layar sekali sentuh
anak-anak korban alpaku
2026
Apakah Penyanyi
betapa tersudut arti penyanyi
sudut istana
atau sudut café, pub, karaoke, diskotik
dianggap menggelitik
dalam galau Basudewa
istana Mandura
tak berputra sekian lama
penyanyi itu, di sudut istana itu, Ken Yasoda
akhirnya turunkan putra
juga pada akhirnya, penyanyi lainnya
di sudut lainnya, Ken Badra
turunkan putra
apalah sebuah sudut, seorang penyanyi
café, pub, karaoke, diskotik
ladies escort, pemandu lagu
tenpat galau lalu terpukau
kemudian Ken Yasoda, Nyai Sagopi itu
turunkan Arya Udawa, patih Mandura
kemudian Ken Badra, Dewi Badrahini itu
turunkan Dewi Sumbadra, jelita jagat raya
kemudian dunia telah memilih
turunkan cinta tanpa pilih kasih
2026
Operasi Caesar
sayatan perut dan rahim ibu
lorong-lorong sepi tanpa pergulatan terlahir aku
--dan bukan hanya itu--
mata Caesar masih menatap nanar
terasa benar
udara, angin, cuaca membawa tanya
terarah padaku, siapa?
di kamar operasi tiba-tiba
teringat Kunti, darah remaja, Prita muda
terarah padaku, melalui telinga, terarah Karna
bukankah doa-doa mengingang
sembilan bulan tak ada sungsang
sungai mengalir, angin semilir, harapan berdesir
ari-ari tak menutup jalan lahir
tapi Caesar membedahnya
tapi Karna dilahirkannya
dan ibu, darah remaja, masa muda
bukan kebinalan
dan Kunti, kekanakan, keluguan
hanya coba-coba
bukankah ini anugerah dewata
lalu seperti main-main dengan mantra
dan ibu, dan Kunti bukankah menemukan
masih perawan?
maka, aku pun meretas, menerabas
--mencari-cari diri--
udara, angin, cuaca, luka
dan musim, anomali duka
sepanjang kemarau
sepanjang penghujan
ialah sama
Karna terbuang, ditemukan sais kereta
aku terbuang, ditemukan pisau bedah
2026
Politik Terjawab Kresna
apakah kebaikan, kemudian
lebih dipilih ketimbang kebenaran
seperti doktrin
melenting
menyelusup ke darah, ke sumsum
pragmatis, siasat
politik, politisi
dan perang itu, Baratayudha itu
dan Kresna merasa berkewajiban
berkibaran sebagai baik-baik saja
(meski, sesuatu yang buruk)
benar dan salah dipandang cara pandang
(meski, kejahatan tetaplah kejahatan)
doktrin, bukan seperti lagi
pragmatis, siasat
politik, politisi
telah terlewati ideliasme murni
kebenaran melenting arti masing-masing
apalah fakta telanjang
sekalipun menipu
maka, siasat Kresna menjelama politisi
perang, keseimbangan, kekhawatiran
Baladewa pun tak boleh tahu Baratayudha
di Grojogan Sewu ia menuruti bertapa
kompromi jadi prinsip
meski teknis, bukan nilai
stabilitas, pokok, utama
--It is not either this or that. In between--
maka, Kresna bisikkan sesuatu
relakan Pandawa kalah dadu
di hutan terlunta-lunta dua belas tahun
apalah kebaikan, apalah kebenaran
mata memandang, saru
2026
Atas Nama Negara
bagaimana keping-keping fragmen
mewujud, tapi hanya bayang
langit malam, kelam
betapa sesak luas padang Kurusetra
ambang Baratayudha
perang ternyata lebih dahsyat di jiwanya
Dewabrata, Dewabrata
masygul hatinya
betapa menitis garis pada Kurawa
betapa menitis garis pada Pandawa
darah itu gelegak leluhur, karuhun
Hastinapura linuhung
Dewabrata dalam Bisma yang agung
tebersit atas nama negara
sekeping fragmen dalam sumpah
bagaimana bayang itu
Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa
(dalam peluk cinta)
Duryudana dan sembilan puluh sembilan adiknya
(dalam peluk cinta yang sama)
dari kakek buyut, Bisma
Kuru, Santanu, trah mengalir darah
bagaimana langit malam, kelam
tapi ia tahu, betapa sekeping fragmen lain
(tentang kebenaran dan keadilan)
dan mungkin pilihan itu ada bintang jatuh
lalu Bisma memungutnya
bukankah negara di atas segalanya
Hastinapura dalam sumpah
betapa makin sesak luas padang Kurusetra
tengah-tengah Baratayudha
Pandawa dan Kurawa dalam peluk cinta
Bisma, Bisma
antara gugur atau mati, berserah nyawa
2026
Perjalanan Dadu
apa kaupikirkan tentang bermain dadu?
mengantar sukma, rasa, tamasya
bukan titik salah
“aku suka, semenjak kecil, remaja,”
Yudistira, maharaja Amarta
dan Sengkuni, dan Duryudana menangkap itu
dan Bisma, dan Druna terbisu
“ini hidup terlingkupi judi”
seperti dadu dilempar
gulma, tikus, walang sangit, padi adalah gambar
(dan nasib petani dipertaruhkan)
dadu diguncang-guncang
gambar ikan, udang, jaring robek, batu karang
(dan takdir nelayan diperjudikan)
dan Yudistira, dan Drupadi menanggung itu
dan Kresna, dan Narada terpaku
apalagi kaupikirkan dadu?
harta, istana, saudara sudah terebut
jati diri telah terenggut
“tapi Drupadi, sang istri, masih”
Puntadewa lupa, kitab-kitab minta dibaca
sebab ada saat bermain, bertaruh, lalu alpa
dalam lemparan dan putaran dadu
terlempar, terputar, terlempar, terputar
dan seterusnya
dan Dursasana memuncak, dan Drupadi terjambak
dan Kresna turunkan siasat
tak ada lagi terpikir dadu
iri, dendam, jebakan lebih dituju
kesenangan semenjak kecil dan remaja
mengantar sukma, rasa, tamasya
lalu dadu pun membelok jalannya sendiri
menuju judi
dan Gendari, dan Kunti tunjukkan amarah
dan Duryudana terperangah
jadi, apa lagi kaupikirkan tentang judi?
baik, baiklah
dua belas tahun dalam pembuangan
satu tahun penyamaran
melebur dosa, dewasa jiwa
“ini takdir tak bisa dipungkir”
Kresna, titisan Wisnu, memahami hingga akhir
2026
Kesetiaan, Kesucian
mendung tepekur
doa-doa bertabur
dan sukmamu tergetar mata tajam candabirawa
kilaunya, berbayang darah
sayatnya, regang nyawa
kelelakianmu dalam gelepar-gelepar ragu
“Narasoma, Narasoma, ksatria, dicekam ambigu”
bukankah tak ada yang lebih tulus
kesetiaan gadis yang telah lulus
tapi putri raksasa, tapi rela berikan nyawa ayah
betapa kesetiaan telah melampaui batasnya
kemanusiaan tidak lagi memiliki tempatnya
angin hanya bisu
hambar dan sendu
“Setyawati, Setyawati, perempuan setia, demi cinta”
Narasoma, lelaki terpuja
Bagaspati, ayah terkasih
dan langit adalah ksatria, dan bumi adalah setia
dalam perjumpaan agung
restu linuhung
mendung tepekur, doa-doa bertabur,
angin hanya bisu, hambar, dan sendu
tiba-tiba aku disergap cemburu
jiwa yang tenang
kauserahrelakan
“Bagaspati, Bagaspati, harusnya aku, diriku”
terlalu suci untuk mati
maka, sukmamu akan kuhirup dalam-dalam
mengaliri darah sepanjang badan
menyucikan desa-desa, kota-kota, negara
2026
Bionarasi:
Supali Kasim, tinggal di Indramayu Jawa Barat. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023). Buku puisi tunggal berbahasa Jawa Indramayu, Sawiji Dina Sawiji Mangsa (2020) memperoleh Hadiah Sastera Rancage (2021). Bisa disapa lewat email [email protected]
Comments ()