Puisi-puisi Khaerul Majdi Syahdana
Di Teluk Kendari, Suatu Malam
Malam semakin gelap saja ketika engkau pertama kali
memijakkan kaki di Kendari
Lihatlah!
jalan-jalan payah, tiang-tiang gagu
rumput-rumput basah dan rumah-rumah
setengah sepi
Bertimpuh menyudikan kedatanganmu
sementara tubuh kata akan segera kuyup
di mulutmu
diam-diam meneroka
ragu safarimu
Engkau mengira tak akan ada labuh di sana
engkau mengira kapal tua yang mengantarmu itu
akan lebih dulu hanyut sebelum tiba di Raha
namun, reja-reja malam menuntunnya
seperti kapal Nuh yang membawa binatang-binatang surga
Pada malam yang jauh itu
orang-orang perpesta di rumahmu
engkau tertawan di buritan
di antara bau amis para pekerja
di antara wajah-wajah cemas
para ibu dan nenek tua
Mata lengang mereka membuatmu
merasa asing dan dungu
ayat-ayat di ulu hatimu tak dapat membuatmu bahagia
lapa-lapa dan kabuto pun
tak segera dapat membuatmu
selamat dari rasa lapar
Di teluk Kendari, suatu malam
rasa bimbang mengisap seluruh cahaya
melemparmu ke bagian paling karam
dari sebuah cakrawala
Kendari, 2025
Pelabuhan Raha
1/ Tabea. Kamentae!
2/ Selamat tinggal, engkau
malam yang lesu
Birahi yang engkau rindu
telah menuntuntunmu kepada pagi yang sejuk
melemparmu ke atas seribu sayap kupu-kupu
mereguk tubuhmu
di dasar batu-batu
dalam gua semadimu
Tiang-tiang penyangga dermaga
pelabuhan Raha
hanyalah taman kanak-kanak
bagi ikan-ikan kecil
keong-keong tertawa
seraya sembunyi di karang-karang tua
sementara engkau
belum sempat mengenal apa-apa di sini selain dirimu
yang telah sepi sendiri
3/ Kesepian macam apakah engkau ini!
engkau hanya tahu ini Muna
pulau paling asing dari ingatanmu
pulau bahasa yang lepas
dari bahasa moyangmu
Laut pun bernyanyi. burung camar menari-nari di telukmu
disusul dengkuran ombak-ombak gelisah
di tepi. tetapi malam, kenapa engkau pergi?
menarilah di sini. menarilah
bersama sisa fajar kazibmu
yang palsu
Lagi pula. misal pun engkau bersikukuh
birahi di sisimu akan tetap menawanmu
di dalam kapal sandar yang tersesat
di pelabuhan gairahmu
4/ Tabeq walar, pelinggihda. wah kelemaq jelo niki!
Engkau tertawa. tetapi matamu
lamat-lamat mengairi ladang kuna
di lekuk pipimu. berkata engkau
kepada kata:
“sebab dengan cara itulah matlamatku
lahir kembali
menjadi pendiang bagi hulu-hilir nasibku.”
5/ Selamat tinggal, engkau
malam yang lesu. di mana saja, engkau
malam. selamat tinggal, engkau.
lesu. di mana-mana.
Selamat tinggal.
Raha-Lombok, 2025-2026
Mata Hari di Laino
Mata hari di Laino, setahun ke belakang semata gelap. Laino, kata seorang bijak, lebih tepat disebut kenangan daripada sebatas pasar. sebab laut telah mengasuhnya lebih dulu sebelum ia menjadi sebuah nama. dengan basa garam. dalam ingatan kerang dan ikan-ikan.
Mata hari di Laino seolah tak ingin berhenti menjadi pengayuh bagi sampan-sampan para nelayan. tak berlainan cumi-cumi, ikan teri, udang atau tengiri. sama-sama mati dan kematian itulah yang ditawar setiap pagi.
Mata hari di Laino seperti periuk penuh bubur santan. yang senantiasa diburu saat hari-hari bahagia. bahkan ketika si papa hanya bisa tengadah. tawa dan tawar-menawar tetap beradu di atas kedua telapak tangannya.
Sebelum semangkuk bubur santan itu menyelamatkan si papa dari mimpi-mimpi jenaka. ia lebih dulu tersia-sia di jalan nasib yang ia gantungkan kepada matahari Laino. semenjak leluhur Muna bisa menyepuh besi tua guna berburu paus biru di selat muna.
O, mata hari Laino. maka kenanglah. kekalkanlah. si papa. aku. yang sama menerjang jala ikan. dalam mimpi. dalam nasib yang sama.
Laino, Muna, 2025-2026.
Ziarah Makam Kyai Zainuddin
Sudahkah kau beri salam kepada Kyai Zainuddin
pemilik makam yang namanya hampir luntur itu?
Barangkali di pelataran makam itu
masih ada sisa-sisa pengampunan untukmu
dan tubuhmu mungkin masih tabah
memikulnya pulang
suara langkah kaki
yang menyesal tiba
di pelataran. memegang
pagar besi tua itu.
Kau dengar nyayian-nyayian yang putus asa itu?
lihatlah. seorang tengah bersimpuh
seperti orang tua renta yang meminta surga
padahal ia belum cukup dewasa
berkata-kata
Maka, ikutilah tengadahnya agar doa penyucianmu
dapat menembus batas sidrah
biarlah masa lalu itu sekelam mawar hitam
yang terlanjur merekah di atas gundukan
bukit-bukit jadah
Laron-laron itu, kau lihat?
mengelilingi suluh
dan daun-daun pohon di sampingmu
berguguran. sementara
dirimu hanya bisa termangu-mangu
mengeja doa-doa palsu
Lombok, 2025
Catatan Kecil
untuk guruku
cekung matamu
lengang langit
tinggalkan misal
mendenging
selembar kabut
menyoal zaman
gagap sanur
ingatanmu menatah karang
menyibak waktu
nafasmu tak buru-buru
lenguh. meraba riak
menabur umpama
mengambil apa saja
yang serupa abjad
dari tanda-tanda miskyat
melilit pohon hikayat
yang sembunyikan
kisar riwayat
Lombok, 2025
Dawuh Seorang Sumbar
Menerjemahkan nasehat seorang guru
Leluhurmu telah bertuah
jujur ia melantun
jujur pula ia mengulang
Kata-kata hampir tak pernah
khianah. ia purba dalam diri
para penyair
Lombok, 2025
Biodata Penulis
Kha. Majdi, lahir di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 9 Agustus. Mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor , Lombok, dengan konsentrasi Hukum Ekonomi Syari’ah. Aktif bergiat di komunitas Kelas Reading Buya Syafii, sebuah komunitas nirlaba yang berfokus pada pemikiran Islam dan pembacaan Sastra di Lombok Timur. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai yang tersiar di berbagai media digital, baik daerah maupun nasional. Instagram: @kha.majdi_
Comments ()