Puisi Lara dan pelipurnya

Mengapa Aku Lahir sebagai Manusia

Dusun-dusun sesak
tempat ibu tikus mengandung,
para bapak menggerogoti
jempol kaki.

Kucing garong kawin berjamaah
di atas pagar
dan kursi beton.

Boleh jadi nyawanya sembilan,
tapi peranakan
mati di hari kesepuluh.

Tonggeret di semak
atau ranting jati,
cerewet,
menyuar rahasia binal
pembabat hutan.

Burung tekukur membelah langit,
bersarang pada dahan.

Di kedua sayap
ada Tuhan
menyangga terbang.

Dini hari,
bunga liar tumbuh
di tepian gorong-gorong,
di retakan bangunan
yang dicabut nyawanya.

Ada pohon beringin,
semagah rambut genderuwo,
di antara akar gantungnya,
seorang malaikat bersila,
bermukim dalam ibadah yang menggila.

Bunga teratai,
runjung cemara,
dan persik meranum.

Benih senggama Gaia
bertaburan menjadi alkisah,
menyemai maknanya sendiri
dari sesuatu yang berdenyut,
kembali mati,
bermetamorfosis,
bernenek moyang.

Lalu

ada aku.
Dari benih,
bajangku bertunas.

Dua puluh enam.
Keluar
dari selangkangan perempuan.

Rahim
bukan telur ayam.
Tak mujarab.

Naasnya,
jadi manusia pula.

Gadis Tua, Telah Layu

Panggil dia gadis tua.
Ia tidak belia lagi,
gampang bersungut.

Belikatnya telah layu.
Seiring denting keabadian
melaju mundur.

Ia hanya bersolek
jika merayakan kedatangan.

Tapi kali ini,
terpaksa dipertemukan
pulasan gincu
dengan selendang hitam.

Leher yang semakin keriput
menunggu sajak-sajak terbang
kepada pujaan hati;
mendamba kecupan,
ditimang dalam pangkuan.

Itu mustahil.
Prosa dan puisi
malah bertandang ke pemakaman.

Rupanya,
sajak-sajak
telah menjadi kafan
bagi belahan jiwanya.

Kembang setaman
sudah jadi pupuk
di liang lahat,
bersemai dari linang air mata
pujangga yang membual
tentang kemesraan.

Sering kali ia berlama-lama,
mencium nisan keropos.

Cinta dan kasih
membungkus ajalnya
cuma-cuma.

Barangkali ia kesepian,
sampai ilalang menumpuki pekarangan
sebagai teman
berbagi rindu.

Celaka baginya,
sebab ia bersuara parau
kala amarahnya
belum rampung
bertengger di carang pohon siwalan,
tepat di bawah
makam menjengkelkan;
kekasihnya
yang telah lapuk,
dilahap masa lampau.

Aku Juga Tidak Suka Kejadian Waktu Itu

Semerbak wangi menggantikan geram kelu.

Sudahlah.
Lemaskan kepalanmu.
Toh, juga tetap keramas lagi.

Menggunting kuku,
tak luput kutikula.
Menepuk wajah
agar berseri-seri lagi.

Tak sanggup marah.
Biar keningnya menua.

Bergumam nada sumbang,
tangan lihai memintal hati
agar rekat kembali.

Terulang.
Berulang.

Sambil memintal,
ia berbisik getir,

“Tak
seperti semula.
Atau sebelumnya.
Kurang rapi.
Apa adanya.”

Panas memantul
di dalam sangkar kepala,
membakar
anak burung merpati.

Sebab habis dinodai
bertubi-tubi,
pulangnya
harus dia juga
yang bebersih diri.

Ke mana pergi
memori-memori
yang membuat merinding?

Ke mana harus diletakkan
kenangan-kenangan
penuh sesal?

Ke mana ia harus
menjemur kekeliruan?

Ranjang,
tempat badannya mabur,
berseteru dengan adil dan adab:
jangan dan biar,
salah dan benar,
tepat dan meleset—
semuanya diiringi
isak tak sudi

Bebal, ia gemar menyalahkan diri,
seperti pelatuk
yang ia arahkan
ke otaknya.

Meskipun setelahnya,
bedil-bedil berubah
jadi kelopak bunga
yang berguguran
di pelupuk mata.

Menggagalkan pereda nyeri
rima asap menyesakkan jelaga
dijantungnya

Sebelum pulas,
ritualnya menyumbat bibirnya
dengan renda gaun sulaman.
Jangan sampai mengigau.

Siapa tahu besok mati,
ia tak harus menjadi juru bicara,
budak manusia.

Biar pijar di mata
menyampaikan sisanya—
tutur yang tak sempat
ia gunjingkan. 

Di mata biru kekasihku

Ada pesona yang tak mampu kuartikan,
kala berlabuh di mata birumu.
Biru untuk setiap dingin dan kelu;
biru adalah kepingan rapuh.

Setiap umpatan yang tak rela
kau izinkan bertuan padaku, nila.
Kau kepung mereka sendirian.

Dongeng-dongeng risau
sengaja kau tenun dalam bayangan
yang kau giring,
lalu kau simpan pada sekat
yang tiada boleh aku kunjungi.

Sebab pintamu, aku bermuara
hanya pada yang elokmu saja;
sementara batinmu menyimpan gulita—
lekas kau rapikan
tiap kali aku mencerapnya.

Segala lelah menuju pulang
dalam hujan yang engkau sendiri
mahir teduhkan,
namun tetap jinak kau lekatkan
hanya padaku seorang—
hingga aku menjadi jangkar
bagi segala yang bergumul di sana.

Mata biru kekasihku,
yang melunak saat diseka kinasih.

Bulan setengah temaram,
ditemani sebutir bintang.
Engkau menggenggam tanganku
tanpa bermaksud menjajah,
menemani tiap aku tiarap
dari petaka.

Biru itu tak pernah tersulut,
mengelus kalbu malam.
Tiada tabiat nakal berseru
di antara selaput pandang
pada dini hari yang sendu.

Memang engkau
bukan terbuat jadi penjahat.

“Seumpama bukan aku
yang menyelamatkanmu
dari mimpi burukmu.”

Jeda itu lekat.

Kau bubuhkan nirmala
di birunya matamu,
penuh takut.

“Jangan biarkan aku
menjelma jadi perundung.” 

Roqayah bersama Tuhan

Seakan Tuhan sedang mengintip
dari celah langit yang terbelah,
menganga seperti kerang bercorak gemilang.

Cakrawala senja itu terbentang,
dibingkai kemilau jingga
yang menyelimuti kawanan awan.

Pukul lima.
Pilu di sebatang tembakau
memerangi rima gusar.

Senja hendak surut,
menghampiri hamparan sungai.
Kilau beramai-ramai menuju hulu,
tak lekang menyanjung mata kaki
para burung bangau.

Kerikil penat dan bulir emosi
di penghujung, ego kian hadir,
melahirkan butir-butir mimpi.

Di tengah kiamat sederhana,
gadis bersanggul merah rubi,
pipinya penuh rona bak delima ranum.

Semerbak aroma kayu manis
dari keringat di kelopak mata
menindas kegelisahan.

Bibirnya pucat,
kalah muak bergurau
melawan jenaka kehidupan
yang mampir diselisih matahari,
yang mengintip iba
sebelum raib ditelan gulita.

Pelitanya nyaris redup.
Celengan risau masih menderu,
kepalanya diselimuti
kepulan asap suntuk.

Bias di senyumnya
telak menyatakan
bahwa ia lelah dalam peperangan.

Batinnya tergores asa,
diterpa gerimis pecahan beling.

Tapi hebatnya,
ia tak pernah kalah.
Tak kunjung binasa.
Tak berserah pada kabut hitam,
tak melebat jadi penjahat.

Tuhan pindah berdesir di nadinya,
bertuah pada hati yang tabah.

“Tulusnya wangi tanpa pamrih.
Kutiupkan ke jiwanya,
bahari yang damai.
Semoga berkah pijaknya
kala mendaki takdirku
yang kadang tak adil.”