Piring Bunga Biru Akhirnya Dipakai dan Puisi Lainnya
Ayah Mengasah Pisau
Yang Masih Tajam
Sehabis hujan, pagar rumah berbau besi.
Ayah mengusap karat dengan ujung kaus,
seolah ada umur yang menempel di sana.
Sejak pabrik tutup,
ia bangun lebih pagi daripada alarm,
menyiram cabai, menambal talang,
mengasah pisau yang sebenarnya masih tajam.
Tangannya tak pernah menganggur.
Hanya pekerjaannya yang kehilangan nama.
Aku ingin bertanya
bagaimana rasanya pulang dari dunia
yang mendadak tak menyediakan tempat.
Tapi ayah menunjuk jemuran:
“Angkat dulu. Hujan lagi.”
Kami berlari ke halaman.
Di telapak tangannya,
bekas oli masih tinggal
di sela garis-garis yang tak bisa dicuci—
hitam yang tak ikut diberhentikan.
(2026)
Piring Bunga Biru
Akhirnya Dipakai
Ibu menyimpan piring berbunga biru
di rak paling atas,
tempat debu lebih rajin datang daripada tamu.
Setiap menjelang lebaran
ia menurunkannya, mencuci satu-satu,
lalu menyusunnya kembali.
“Buat nanti,” katanya.
Nanti ternyata panjang:
melewati cicilan, obat batuk,
beras yang pernah tinggal segenggam,
dan motor ayah
yang suatu malam pulang didorong.
Tak ada tamu yang datang.
Sampai sebuah piring retak ketika dicuci.
Ibu diam sebentar,
lalu mengisinya dengan pisang goreng
dan meletakkannya di tengah meja.
Kami makan sambil meniup teh.
Untuk pertama kalinya,
bunga-bunga biru itu
terkena minyak,
remah,
dan jari-jari kami.
(2026)
Ibu Menulis: di Sini Tidak Ada Apa-Apa
Ibu masih menulis surat untuk kakak
meski kabar sekarang cukup disentuh di layar.
Ia mencatat hujan tiga hari,
ayam tetangga yang masuk kebun,
harga minyak, sakit pinggang ayah,
dan jambu yang akhirnya berbuah tiga.
Tak satu pun dikirim.
Surat-surat itu menumpuk di laci
bersama kuitansi lama
dan sebuah kunci
yang tak kami ingat pintunya.
Suatu malam aku membaca satu:
“Di sini tidak ada apa-apa.”
Padahal genteng bocor di dua tempat,
beras tinggal setengah kaleng,
dan ayah makin sering tidur sebelum isya.
Ibu memang pandai
membuat kesusahan terdengar kecil:
ia melipatnya empat,
memasukkannya ke amplop,
sementara perangko
tetap utuh di sudut laci.
(2026)
Anak Kecil Dengan Karung
Yang Terlalu Besar
Pagi belum benar-benar jadi
ketika anak itu sudah memeriksa selokan.
Ia memilih botol yang masih punya tutup,
mengempiskan gelas plastik dengan tumit,
lalu memasukkannya ke karung
yang berkali-kali jatuh dari bahunya.
Di lampu merah,
orang-orang mengangkat kaca mobil
ketika truk sampah lewat.
Anak itu justru mendekat.
Satu botol menggelinding ke tengah jalan.
Ia menunggu klakson berhenti marah,
lalu berlari mengambilnya.
Di tangannya, botol itu ringan sekali.
Karung di punggungnya tidak.
Menjelang siang
bayangannya mengecil di aspal.
Ia berhenti sebentar,
membetulkan tali karung,
lalu berjalan lagi
dengan suara botol-botol
saling berbenturan di belakangnya.
(2026)
Sandal Roket Itu
Belum Dibawa Pulang
Menjelang magrib,
teras musala dipenuhi sandal:
karet tipis, kulit sintetis,
tali putus yang disambung kawat,
dan sepasang sandal kecil
bergambar roket merah.
Ketika salat selesai,
orang-orang keluar sambil mencari miliknya.
Seorang bapak tertawa
karena sandalnya tertukar.
Seorang anak pulang sebelah kaki telanjang.
Pedagang ikan mulai menggulung terpal.
Tak lama kemudian
teras hampir kosong.
Sandal roket itu masih di dekat tiang.
Tak ada yang memanggil nama siapa pun.
Angin menggeser sebelahnya
sampai ujungnya menyentuh anak tangga.
Dari situ,
roket merah yang sudah pudar
menghadap jalan,
seperti masih tahu
ke arah mana seseorang biasanya pulang.
(2026)
Bionarasi:
Anik Hailaqhari adalah penyair asal Kerinci, Jambi, kelahiran 2007 (18 tahun) dan alumnus SMAN 1 Sungai Penuh. Ia tumbuh di wilayah yang kerap dijuluki “sekepal tanah dari surga”. Selain menulis puisi, ia menaruh minat pada matematika dan sains serta pernah meraih penghargaan dalam sejumlah lomba lintas bidang. Sejumlah puisinya telah dimuat di berbagai media sastra, antara lain Suara USU, Pronesiata, Rundiang, serta media lainnya, dan dihimpun dalam beberapa antologi puisi bersama. Ia dapat dijumpai melalui Instagram @hailaqhari.
Comments ()