Pangeran Setia

Tinggi di atas alun-alun Kadipaten, di atas sebuah tugu tatanan batu andesit, berdiri patung Pangeran Setia. Tubuhnya disepuh dengan prada emas sepuhan Jepara, matanya terbuat dari dua kerat batu nilam asal Pegunungan Menoreh yang berkilau, dan sebilah keris pusaka berpamor bersarung ukiran delima merah menyala terselip di warangka pinggangnya.

Ia sangat dikagumi oleh para petinggi loji. "Ia gagah bagai wuwungan atap joglo," komentar seorang Resident Hindia Belanda yang ingin mencari muka di hadapan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch; "hanya saja tidak menghasilkan keuntungan cukai," tambahnya, khawatir atasannya menganggap ia bekerja setengah-setengah, padahal ia hanya kagum pada seni ukir priyayi.

"Mengapa kamu tidak bisa menjadi seperti Pangeran Setia?" tegur seorang ibu priyayi kepada anak laki-lakinya yang merengek meminta mainan gamelan cilik dari Pasar Gede. "Patung Pangeran Setia tidak pernah merengek meminta apa pun di tengah prihatin."

"Aku lega masih ada lambang ketegaran di bumi Mataram yang sesak ini," gumam seorang pejuang gerilya yang menyamar, menatap nanar patung megah di tengah cengkeraman loji tersebut.

"Ia tampak bagaikan prajurit wirotamtama yang syahid," bisik anak-anak santri pondok pesantren saat mereka keluar dari surged (surau) mengenakan sarung tenun lurik bersih dan baju koko putih.

"Bagaimana kalian tahu rupa pahlawan masa lalu?" seru seorang Asisten Resident pengawas tanam paksa, "kalian belum pernah hidup di zaman Sultan."

"Ah! Tapi kami melihatnya dalam pulung wirid para leluhur," jawab anak-anak itu; dan sang pejabat kolonial mengerutkan kening dengan gusar, karena pemerintah kolonial melarang pengajaran babad sejarah yang membangkitkan nasionalisme pribumi.

Suatu malam, melintaslah seekor burung gagak surakarta di atas kota kadipaten yang dibelenggu loji. Kawanannya telah terbang migrasi ke selatan berbulan-bulan lalu, namun ia tertahan karena terpesona oleh sekuntum bunga melati putih yang tumbuh subur di tepi telaga desa. Ia terpikat oleh keanggunan kuntumnya saat pertama kali singgah di dekat rumpun bambu sepulang mencari biji-bijian.

"Maukah kau kutinggali kasih?" sapa burung gagak itu langsung pada intinya, dan sang melati merunduk lembut menyebarkan harum semerbak. Maka ia berputar-putar di atas air telaga, mengepakkan sayap menyentuh riak air bening. Itulah lambang kesetiaannya sepanjang musim panen padi.

"Itu hubungan yang sia-sia," cibir kawanan burung lain, "ia hanya bunga kampung tanpa harta, dan rumpun keluarganya terlalu padat merayap di sepanjang pematang." Ketika musim rendeng tiba dan badai menerjang, burung-burung lain terbang menyelamatkan diri.

Setelah mereka pergi, sang gagak merasa sepi dan mulai meragukan pilihannya. "Ia tidak bisa berpindah tempat," keluhnya, "dan ia terlalu terikat pada embun pagi yang mudah menguap bersama angin timur." Padahal, setiap kali angin berhembus, bunga melati itu senantiasa merunduk hormat dengan anggun. "Aku akui ia setia menjaga tanah airnya," lanjut sang gagak, "namun aku penjelajah angkasa, semestinya pasanganku pun menyukai kebebasan di udara."

"Maukah kau ikut terbang melintasi bukit barisan?" tanyanya akhir pekan itu; namun sang melati menggeleng perlahan, akarnya terpatri kuat di bumi pertiwi.

"Kau hanya mempermainkan kesetiaanku," gerutu sang gagak, "aku hendak terbang ke tanah seberang. Selamat tinggal!" dan ia mengepakkan sayapnya pergi.

Sepanjang hari ia terbang mengarungi cakrawala, hingga senja membawanya ke kota kadipaten. "Di mana aku harus beristirahat?" batinnya, "semoga pos pantau loji ini aman dari senapan meriam."

Lalu ia melihat tugu patung Pangeran Setia di tengah alun-alun. "Aku akan berteduh di sana," serunya; "letaknya tinggi dan udaranya bersih dari asap pabrik gula kolonial." Ia pun hinggap tepat di antara sandaran bahu patung Pangeran Setia.

"Aku mendapat istana bertabur prada emas," bisiknya pada diri sendiri, lalu menyelipkan paruhnya ke bawah sayap. Namun, baru saja ia hendak memejamkan mata, sebutir air hangat jatuh membasahi bulunya. "Aneh sekali," gumamnya, "langit malam cerah tanpa mendung, bintang-bintang bersinar terang di atas bumi Jawa, namun mengapa ada titik air? Kebijakan tanam paksa membuat cuaca negeri ini ikut menangis. Tanaman tebu dulu disiram air irigasi desa, tapi ini air mata kesedihan."

Tetesan air kedua kembali jatuh.

"Apa gunanya sebuah monumen jika ia tak mampu menaungi makhluk yang kepayahan?" gerutunya; "aku harus mencari atap pendopo kawedanan saja."

Namun sebelum ia sempat merentangkan sayap, tetesan ketiga jatuh. Ia mendongak ke atas dan tertegun—apa yang disaksikannya?

Kedua mata patung Pangeran Setia basah oleh air mata, mengalir deras membasahi pipinya yang bersepuh prada emas. Wajahnya begitu teduh di bawah sinar purnama, membuat sang burung gagak diliputi rasa iba yang mendalam.

"Siapa tuanku?" tanya sang burung.

"Aku Pangeran Setia."

"Mengapa Baginda menangis? Air mata Baginda membasahi buluku."

"Dulu tatkala aku bernyawa dan memimpin laskar Mataram," jawab patung itu, "aku tidak mengenal duka air mata, sebab aku dibesarkan di Dalem Kepatihan di mana penderitaan rakyat belum diinjak-injak penjajah. Di siang hari aku berlatih olah kanuragan bersama para prajurit di alun-alun, dan di malam hari aku memimpin tembang macapat di Pendopo Agung. Tembok benteng kadipaten berdiri kokoh, membuatku terlena dari penderitaan di luar sana. Para punggawa menjulukiku Pangeran Setia, karena hidupku diliputi kehormatan. Namun kini, setelah aku gugur dalam Perang Jawa dan dipahat menjadi tugu peringatan oleh penguasa loji, aku dapat menyaksikan seluruh kemiskinan dan penindasan yang menimpa tanah kelahiranku. Jantungku boleh jadi terbuat dari timah keras, namun aku tak kuasa menahan tangis melihat penderitaan rakyat."

"Ah, bukankah ia terbuat dari emas seluruhnya?" batin sang burung gagak. Ia menjaga santun bahasa priyayi agar tidak lancang.

"Jauh di sana," lanjut patung itu dengan suara berbisik lirih, "di perkampungan pinggiran benteng, ada sebuah rumah bilik bambu yang hampir roboh. Jendelanya terbuka, dan tampak seorang ibu penenun kain lurik sedang membungkuk di depan Kiklik. Wajahnya tirus kepayahan, jemarinya kasar dan bengkak tertusuk mata tenun, sebab ia harus menyelesaikan pesanan kain batik selendang pengantin untuk keluarga kontrolir Belanda. Di sudut balai-balai, anak laki-lakinya terbaring lemah terserang demam malaria. Ia merintih meminta segelas air kelapa muda atau buah jeruk peras, namun ibunya hanya bisa menyediakan air kendi biasa. Wahai burung gagak, sudikah kauantarkan permata delima dari hulu kerisku untuknya? Kakiku terpaku di tugu batu ini, aku tak dapat melangkah."

"Aku ditunggu rombongan migrasi ke seberang," jawab sang gagak. "Sahabat-sahabatku tengah terbang di atas aliran Sungai Bengawan Solo, hinggap di rerimbunan pohon mangga menikmati buah matang. Sebentar lagi mereka beristirahat di makam para raja di Imogiri, di bawah naungan payung agung keraton."

"Wahai burung gagak yang budiman," bujuk sang Pangeran, "maukah kau tinggal semalam saja menjadi utusan kemanusiaan? Anak kecil itu tengah kehausan, dan ibunya tenggelam dalam lara."

"Aku kurang akrab dengan anak-anak manusia," jawab sang gagak. "Musim lalu di dekat lumbung desa, ada dua anak gembala yang melempari aku dengan ketapel. Meskipun lemparan mereka meleset karena ketangkasanku terbang, tetap saja itu bentuk ketidaksopanan terhadap makhluk sesama."

Melihat ketulusan dan kesedihan di wajah patung Pangeran Setia, hati sang burung gagak tersentuh. "Udara malam di tanah priangan ini memang dingin," ujarnya, "tapi baiklah, aku akan tinggal semalam untuk membantumu."

"Terima kasih, wahai burung gagak," ucap sang Pangeran.

Maka dengan paruhnya, sang burung mencungkil permata delima merah dari hulu keris pusaka, lalu terbang melesat di atas genting-genting rumah penduduk pribumi.

Ia terbang melewati gerbang loji dan loji-loji kabupaten. Ia melintas di atas pendopo kawedanan tempat para pejabat wedana sedang menikmati hidangan wedang jahe hangat sambil membicarakan setoran pajak bumi (landrent). Ia melintasi perkampungan pengrajin gerabah di pinggir kota, lalu tiba di gubuk bilik bambu yang dimaksud. Anak lelaki itu merintih gelisah di atas dipan bambu, sementara ibunya tertidur pulas karena kelelahan bekerja semalaman.

Sang gagak melompat masuk lewat celah bilik, meletakkan permata delima merah tepat di samping wadah jarum tenun sang ibu. Ia lalu mengepakkan sayapnya perlahan, mengipasi dahi anak yang demam itu dengan sejuk angin malam. "Ah, sejuk sekali rasanya... badanku terasa lebih ringan," gumam sang anak dalam tidur lelapnya.

Pagi harinya, sang burung gagak kembali ke sisi Pangeran Setia. "Aneh," lapurnya, "meski angin malam berhembus dingin, dadaku terasa hangat."

"Itu balasan karena engkau telah melakukan darma bakti mulia," tutur sang Pangeran. Sang burung gagak pun mengantuk dan terlelap; kebiasaan merenung selalu membuatnya mudah tertidur.

Saat fajar menyingsing, ia terbang turun ke tepian Sungai Opak untuk membersihkan diri.

"Sebuah keajaiban alam!" seru seorang peneliti botani Hindia Belanda yang tengah melintas di jembatan kolonial. "Seekor burung gagak bertahan di musim paceklik!" Ia lantas mencatat temuan itu dalam jurnal ilmiah untuk dikirim ke Bataviaasch Genootskep van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Kebudayaan Batavia).

"Malam nanti aku harus melanjutkan perjalanan ke selatan," batin sang gagak penuh semangat. Ia berkeliling mengunjungi monumen tugu pahlawan dan candi-candi tua di sekitar kota. Di mana pun ia bertengger, burung-burung pipit di sawah berbisik kagum, "Itu tamu agung dari tanah seberang!"

Ketika rembulan bersinar terang, ia kembali menemui Pangeran Setia. "Adakah pesan yang hendak kausampaikan ke tanah selatan?" tanyanya.

"Wahai burung gagak, sudikah kau menemaniku semalam lagi?"

"Aku sudah ditunggu kawananku di dataran pengasingan," jawab sang gagak. "Esok mereka akan terbang menuju Rawa Pening dan bersarang di antara rimbunnya pohon teratai raksasa."

"Wahai burung gagak," pinta sang Pangeran, "di ujung jalan kampung seberang, aku melihat seorang pemuda priyayi rendahan duduk di bale-bale bambu reyot. Ia membungkuk di atas meja tulis yang penuh tumpukan naskah babad dan templat tembang, ditemani segelas teh bujang (teh poci tubruk tanpa gula) yang sudah dingin. Rambutnya ikal rapi, mengenakan blangkon usang, dan matanya menyiratkan cita-cita besar. Ia tengah merintis naskah sandiwara sastra Jawa untuk dipentaskan di gedung kesenian rakyat, namun jembunya kaku karena menahan dingin dan lapar. Tak ada kayu bakar di anglo, dan perutnya kosong berhari-hari."

"Aku akan menemanimu satu malam lagi," jawab sang gagak dengan tulus. "Haruskah kubawakan permata lain untuknya?"

"Aku tak punya permata delima lagi," jawab Pangeran Setia; "yang tersisa hanya kedua mataku, terbuat dari batu nilam mulia yang dulu dihadiahkan para wali dari tanah suci. Cungkil salah satu nilam di mataku dan berikan kepadanya. Ia bisa menjualnya kepada saudagar intan di pasar untuk membeli beras, kayu bakar, dan menyudahi naskah pujangga miliknya."

"Duhai Pangeran, hamba tidak sanggup melakukannya," kata sang gagak sambil menitikkan air mata.

"Lakukanlah apa yang kuperintahkan, wahai burung gagak."

Maka dengan berat hati, sang burung mencungkil batu nilam dari mata patung Pangeran Setia, lalu melesat terbang menuju gubuk sang pujangga muda. Ia masuk melalui lubang atap welat yang terbuka. Pemuda itu tengah menelungkupkan kepalanya di atas meja karena putus asa, hingga ia terkejut mendapati kilau batu nilam tergeletak di atas tumpukan kertas serat pohon.

"Puji syukur kepada Hyang Manon," serunya terharu; "ada dermawan yang menghargai karya sastraku. Kini aku bisa membeli perbekalan dan merampungkan serat sastra ini!"

Keesokan harinya, sang burung gagak terbang ke dermaga pelabuhan sungai. Ia bertengger di tiang perahu naga saudagar pribumi sambil mendengarkan para buruh pelabuhan bernyanyi tembang kerja (gugur gunung) saat mengangkat kargo rempah-rempah. "Ho-oh, tarik selaras!" seru mereka. "Aku hendak terbang ke tanah seberang!" seru sang gagak, namun tak seorang pun menggubrisnya. Menjelang malam, ia kembali ke sisi Pangeran Setia.

"Aku datang untuk berpamitan," ujarnya lirih.

"Wahai burung gagak, sudikah kau tinggal bersamaku satu malam lagi?"

"Musim hujan kian mendekat," jawab sang gagak. "Di selatan, matahari bersinar hangat menyinari pohon-pohon kelapa dan rumpun bambu desa. Kawananku sedang membangun sarang di reruntuhan candi kuno, ditemani burung-burung dara putih yang saling merpati. Pangeran, aku harus pergi, namun aku berjanji musim semi mendatang aku akan membawakan dua butir biji permata delima dan nilam paling berkilau untuk menggantikan matamu."

"Di pelataran pasar bawah," ucap Pangeran Setia, "berdiri seorang anak perempuan tukang jualan ubi bakar keliling. Ia tak sengaja menjatuhkan seluruh dagangannya ke dalam lumpur selokan hingga kotor tak layak makan. Ayahnya seorang buruh kasar yang keras; ia takut dipukul jika pulang tanpa membawa hasil uang penjualan. Ia tidak beralas kaki, dan kepalanya basah diguyur hujan. Cungkil mataku yang sebelah lagi dan berikan kepadanya, agar ayahnya tidak menghukumnya."

"Aku tak sanggup membuatmu menjadi buta total, Pangeran," ujar sang gagak bersedih.

"Lakukanlah perintahku, wahai burung gagak."

Maka sang burung mencungkil mata nilam terakhir Pangeran Setia, meluncur turun, dan menyelipkan permata itu ke dalam genggaman tangan sang anak perempuan. "Wah, indah sekali batu mulia ini, bagaikan kancing baju para kesatria!" seru anak itu sambil bersorak gembira dan berlari pulang membawa kelegaan.

Sang gagak kembali hinggap di bahu patung. "Engkau kini telah buta," ucapnya pilu, "maka aku akan menemanimu selamanya di sini."

"Jangan, burung kecil," jawab sang Pangeran tulus, "kau harus terbang menyelamatkan diri ke tanah selatan."

"Aku akan tetap setia di sisimu," balas sang gagak, lalu ia merebahkan diri tidur di dekat tumpuan kaki sang Pangeran.

Hari-hari berikutnya ia habiskan dengan bertengger di bahu patung, berkisah tentang keindahan alam Nusantara yang pernah disaksikannya: tentang barisan burung kuntul putih yang berbaris di pematang sawah hijau di lembah Kedu; tentang kemegahan Candi Borobudur dan Prambanan yang berdiri anggun di tengah samudra legenda leluhur; tentang para musafir yang menuntun kerbau gemuk membawa hasil bumi; hingga kisah para kesatria kraton penjaga kedamaian.

"Wahai burung gagak yang setia," bisik sang Pangeran, "ceritamu amat menakjubkan, namun tiada yang lebih agung sekaligus memilukan daripada penderitaan rakyat jelata di bumi pertiwi ini. Tiada misteri yang lebih besar dari kemiskinan dan ketertindasan. Terbanglah melintasi kota ini sekali lagi, dan kabarkan padaku apa yang kaulihat."

Maka sang gagak terbang melintasi sudut-sudut kadipaten. Ia melihat para priyayi pro-kolonial berpesta pora di loji mewah, sementara para petani penggarap menanggung lapar di gubuk-gubuk reyot. Di bawah kolong jembatan batu bata, tampak anak-anak yatim piatu berpelukan menahan dingin di tengah hujan malam. "Pergi dari sini, anak-anak gelandangan!" hardik petugas ronda malam loji, membuat mereka lari tergopoh-gopoh dalam gelap.

Ia kembali pada Pangeran dan melaporkan semua kepedihan itu.

"Tubuhku dilapisi prada emas murni," sabda sang Pangeran; "kupaslah lembar demi lembar emas ini, dan bagikan kepada rakyatku yang papa. Harta duniawi semata-mata sering kali melenakan manusia dari rasa kasih."

Maka lembar demi lembar prada emas dikupas oleh sang burung gagak dengan paruhnya, hingga patung Pangeran Setia tampak kusam dan keabu-abuan. Emas itu dibagikannya kepada keluarga miskin di perkampungan; wajah anak-anak kembali merona ceria, dan mereka bersorak riang bermain di halaman balai desa. "Kita sekarang bisa membeli beras dan singkong," seru mereka gembira.

Tak lama kemudian, musim dingin dan angin monsun timur yang membekukan tiba. Jalanan berkilau membeku oleh embun es pagi hari, tetesan air di atap rumah membeku menyerupai kristal es, dan para penduduk mengenakan selimut kain tebal (jarik) untuk menghangatkan diri.

Tubuh kecil sang burung gagak kian melemah diterpa hawa dingin, namun ia menolak meninggalkan Pangeran Setia yang dicintainya. Ia hanya memungut remah-remah jagung di dekat lumbung desa saat penjaga lengah, mengepakkan sayapnya pelan untuk menghalau dingin.

Namun pada senja hari itu, ia tahu ajalnya telah tiba. Dengan sisa tenaganya, ia terbang mengepak naik ke atas bahu sang Pangeran. "Selamat tinggal, Pangeran yang mulia," bisiknya lemah, "bolehkah aku mengecup jemari tanganmu?"

"Aku lega kau akhirnya hendak pulang ke tanah selatan yang hangat, wahai burung gagak," ucap sang Pangeran, "namun kecuplah bibirku, sebab aku mengasihimu."

"Bukan ke selatan tujuanku," jawab sang gagak. "Aku hendak pulang ke haribaan keabadian semesta."

Ia mengecup bibir patung Pangeran Setia, lalu terkulai jatuh mati di atas tumpuan kakinya.

Seketika itu pula terdengar suara retakan nyaring dari dalam rongga patung, seolah ada sesuatu yang patah berkeping-keping. Jantung timah di dalam dada patung tersebut ternyata telah terbelah persis menjadi dua, dihantam hawa dingin yang luar biasa.

Keesokan harinya, Sang Bupati bersama para punggawa loji berjalan-jalan menyusuri alun-alun. Saat melintas di depan tugu, sang Bupati mendongak menatap patung. "Astaga! Alangkah kusam dan buruk rupa patung Pangeran Setia ini!" serunya.

"Betul, amat memprihatinkan!" sahut para punggawa mengiyakan.

"Permata di kerisnya hilang, matanya copot, dan lapis emasnya telah sirna. Ia tak lebih dari rongsokan gelandangan!" cibir sang Bupati.

"Dan lihat, ada bangkai burung gagak kotor di kakinya," imbuh sang pengawas loji. "Kita harus mengeluarkan peraturan daerah agar burung-burung liar dilarang mati di kawasan monumen kadipaten." Juru tulis loji segera mencatat titah tersebut.

Patung Pangeran Setia akhirnya dirobohkan. "Karena ia tak lagi berkilau indah untuk keindahan estetika taman loji, ia tak lagi berguna," ujar kurator seni benteng kolonial.

Mereka melebur patung itu di dalam tungku pembakaran pandai besi kadipaten. Sang Bupati mengadakan musyawarah untuk menentukan penggunaan logam sisa leburan. "Kita harus mendirikan tugu baru, dan patung itu harus berupa patung diriku," titahnya.

"Patung diriku juga!" tukas para punggawa saling berebut pengaruh. Sampai kisah ini dituturkan, perebutan kuasa itu masih terus terjadi.

"Sungguh kejadian yang ganjil," bisik kepala pekerja pandai besi. "Jantung timah bekas patung ini sama sekali tidak mau meleleh di dalam tungku api. Harus kita buang ke tempat pembuangan sampah." Mereka pun membuangnya ke tempat pembuangan di dekat bangkai burung gagak yang terbaring kaku.

Tuhan berfirman kepada Malaikat-Nya: "Bawakan kepada-Ku dua benda yang paling berharga dan tulus dari bumi Mataram." Malaikat pun membawa jantung timah yang terbelah dan bangkai burung gagak yang setia itu ke hadapan-Nya.

"Pilihanmu sungguh tepat," firman-Nya, "sebab di taman keabadian Surga-Ku, burung kecil ini akan berdendang memuji keagungan-luhur selama-lamanya, dan di kota emas abadi, Pangeran Setia akan senantiasa memuji keadilan-Ku."