Karsa di Balik Dinding Pandan

Di tepi jalan utama Grootpostweg, berdiri sebuah rumah tua, sangat tua—usianya hampir tiga ratus tahun, dibangun sejak era awal Maskapai Hindia Timur. Hal itu dapat diketahui dari ukiran pada kayu jati utama di atas pintu: terukir angka tahun Jawa dan Hijriah, diapit pahatan daun sirih serta sulur-sulur kelapa. Di sana juga terpahat bait-bait pegon berisikan nasehat Al-Hikam yang ditulis dengan ejaan kuno, serta ukiran topeng kayu berwajah samar di atas setiap ambang jendela. Lantai atas rumah itu menjorok jauh ke depan melampaui lantai bawahnya; tepat di bawah tritisan atap, terdapat talang dari besi tempa berbentuk kepala Naga Anantaboga. Air hujan yang seharusnya mengalir lewat mulut naga justru keluar dari bagian perutnya karena ada bagian besi yang berlubang.

Rumah-rumah lain di sepanjang jalan itu tampak baru dan necis, ber dinding semen halus dengan jendela kaca glas-in-lood bergaya Indische. Kelihatan jelas rumah-rumah modern itu enggan disamakan dengan si rumah tua. Orang-orang di dalamnya tentu berbisik, “Berapa lama lagi bangunan tua lapuk itu dijadikan tontonan di jalan ini? Jendelanya yang menyorok ke luar membuat kita tidak bisa melihat ke ujung jalan! Pendoponya seluas balai kadipaten dan undakan tangganya setinggi tangga menara masjid. Pagar besi tempa itu mirip pintu gerbang makam keramat para bangsawan, ditambah kenop kuningan di atasnya—sungguh tidak masuk akal!”

Di seberang jalan, berdiri pula rumah-rumah necis milik keluarga priyayi baru, dan mereka berpikiran sama. Namun, di balik jendela lantai dua di seberang rumah tua itu, duduk seorang anak laki-laki bernama Suryo. Pipinya kemerahan, matanya berbinar jernih, dan ia rajin mengaji di pesantren terdekat setiap sore. Suryo sangat menyukai rumah tua itu, baik saat terik matahari siang maupun saat diterangi cahaya bulan purnama.

Ketika menatap dinding rumah tua yang plesterannya telah mengelupas, Suryo bisa duduk berjam-jam membayangkan berbagai bentuk: garis-garis retakan itu menyerupai peta wilayah kesultanan masa lalu, lengkap dengan benteng, prajurit berkuda pembawa tombak, dan talang air yang tampak seperti naga Jawa. Rumah itu benar-benar penuh wibawa!

Di rumah tua itu tinggal seorang lelaki sepuh bernama Kyai Wiryosastro. Beliau selalu mengenakan sarung tenun berkualitas, jas tutup bergaya atela, kancing berbahan perak bermotif lambang prajurit kraton, serta iket blangkon yang tertata rapi. Setiap pagi, datang seorang abdi setia bernama Pak Rejo yang membereskan ruangan dan menjalankan urusan keluar. Selain Pak Rejo, Kyai Wiryo tinggal seorang diri di rumah besar itu.

Sesekali Kyai Wiryo berdiri di jendela untuk mencari udara segar. Apabila Suryo melihatnya, ia akan menangkupkan kedua tangan di dada memberi hormat dan mengangguk, lalu Kyai Wiryo membalasnya dengan senyuman hangat. Begitulah mereka saling mengenal dan menjadi karib, meskipun belum pernah bertukar kata—namun hal itu tidak menguraikan rasa hormat di antara keduanya. Suryo pernah mendengar orang tuanya berkata di meja makan, “Kyai Wiryosastro itu seorang cendekiawan yang sangat berkecukupan dan dermawan, namun beliau hidup sangat, sangat kesepian.”

Pada hari Minggu berikutnya, Suryo mengambil sesuatu dari lemari kamarnya, membungkusnya rapi dengan kertas semen, lalu berdiri di depan pintu pagar. Ketika Pak Rejo melintas hendak pergi ke pasar, Suryo menyapanya—

“Paman Rejo! Bolehkah saya menitipkan ini untuk Kyai Wiryo di seberang? Saya memiliki dua ukiran prajurit kayu jati—ini salah satunya. Saya ingin memberikannya kepada Kyai, karena saya tahu beliau begitu kesepian di rumah sebesar itu.”

Pak Rejo tersenyum haru, menerima bungkusan itu, lalu membawanya melintasi jalan menuju rumah tua. Tidak lama kemudian, datanglah pesan balik: Kyai Wiryo mengundang Suryo untuk bertamu. Setelah meminta izin dan mengalap berkah dari orang tuanya, Suryo melangkah mantap menyeberangi jalan.

Bola-bola kuningan pada pagar besi tempa rumah tua itu bersinar jauh lebih terang dari biasanya, seolah sengaja dipoles untuk menyambut kedatangan sang tamu kecil. Ukiran kayu di pintu utama—yang menggambarkan para peniup seruling berbusana pewayangan di antara kelopak bunga teratai—seolah meniupkan nada-nada indah gending pembuka. Doorslag pintu kayu jati berlapis ukiran itu pun terbuka perlahan.

Sepanjang koridor utama dihiasi lukisan-lukisan minyak berbingkai kayu jati tua: gambar para bupati, ulama-ulama sepuh bersorban, dan putri-putri keraton berbusana kain batik sido mukti. Baju zirah pusaka yang terpajang di sudut lorong tampak bergemerincing halus, dan kain-kain sutra pajangan berdesir ditiup angin sore!

Selanjutnya ada anak tangga kayu jati yang mengarah naik dan berbelok ke area serambi dalam. Kondisi serambi itu cukup memprihatinkan; papan kayunya retak dan berlubang di beberapa bagian. Namun, dari celah-celah kayu itu tumbuh tanaman sirih dan pakis hijau. Seluruh serambi, pelataran, hingga dinding luarnya dipenuhi tanaman merambat hingga tampak seperti kebun gantung. Di sana berderet pot-pot tanah liat kuno bergambar relief tokoh pewayangan dan telinga gajah. Bunga-bunga tumbuh bebas di dalamnya; salah satu pot dipenuhi rimbunnya tanaman sedap malam. Tunas-tunasnya berdiri tegak, seolah berbisik, “Udara embun telah menyegarkanku, cahaya mentari telah hangat memelukku, dan menjanjikan kuntum bunga yang harum merbak untuk hari Minggu!”

Suryo kemudian diajak memasuki sebuah ruangan besar yang dindingnya dilapisi sulaman kain anyaman pandan berbenang emas bertuliskan kaligrafi.

“Kilau emas bisa pudar oleh zaman,

Tapi ketulusan anyaman pandan bertahan dalam iman!”

begitu makna tersirat dari hiasan dinding tersebut.

Di ruangan itu berjejer kursi-kursi ukir Jepara bermotif daun bertulang tinggi dengan sandaran tangan di kedua sisinya. “Silakan duduk! Silakan duduk!” seolah kayu-kayu tua itu berderit. “Ugh! Betapa kaku persendian kayuku; sekarang aku pasti kena encok seperti lemari kitab tua di sudut sana, ugh!”

Suryo masuk ke ruangan utama dekat jendela menjorok, tempat Kyai Wiryo sedang duduk menyimak lembaran kitab.

“Terima kasih atas ukiran prajurit kayunya, Ananda Suryo!” ujar Kyai Wiryo ramah. “Dan terima kasih telah berkenan singgah menyambung silaturahmi.”

“Matur nuwun! Matur nuwun!” bunyi berderit halus terdengar dari perabotan kayu di sekeliling; ada begitu banyak barang antik di sana hingga masing-masing seolah saling berdesakan untuk memandang anak laki-laki itu.

Di bagian tengah dinding, tergantung sebuah lukisan cat minyak yang menggambarkan seorang wanita muda berwajah anggun, mengenakan kebaya beludru hitam dengan perhiasan pin perak dan kerudung kain paris tipis. Mata wanita dalam lukisan itu menatap lembut ke arah Suryo. Anak itu memberanikan diri bertanya, “Kyai, siapakah gerangan wanita dalam lukisan ini?”

“Aku membelinya puluhan tahun lalu dari seorang pedagang barang antik di kawasan Pasar Johar,” jawab Kyai Wiryo pelan. “Tidak ada orang yang mengenalnya lagi, lukisan itu terlupakan di tumpukan barang lama. Namun aku mengenalnya di masa muda—ia adalah almarhumah istriku, yang telah mendahuluiku menghadap Allah lima puluh tahun yang lalu.”

Di bawah lukisan itu, dalam bingkai kaca tertutup, tergantung seikat bunga melati kering yang usianya juga sudah setengah abad; warnanya telah kecokelatan dimakan waktu.

Bandul jam lemari besar kayu jati berdetak teratur ke kiri dan ke kanan. Jarum jam berputar, dan segala benda di ruangan itu makin dimakan usia; tetapi tak seorang pun di ruangan itu merasa terganggu dengannya.

“Orang tua saya sering bercerita,” kata Suryo polos, “bahwa Kyai sangat, sangat kesepian di rumah ini.”

“Oh!” sahut Kyai Wiryo tersenyum tenang. “Kenangan masa lalu, kenangan saat berjuang dan bertafakur, selalu datang menyapa hatiku. Dan hari ini, kamu datang menambah kebahagiaan itu. Aku sama sekali tidak merasa kekurangan.”

Kyai Wiryo lalu mengambil sebuah kitab bermuatan sejarah kuno (Babad Jawa) yang berhiaskan iluminasi naskah tinta emas (prada). Di dalamnya terdapat lukisan barisan prajurit bergaya bergawa, panji-panji perang bermotif macan Ali, serta lambang-lambang prajurit keraton masa lalu.

Kyai Wiryo kemudian berjalan ke bilik dalam untuk mengambil hidangan: teh tubruk hangat beraroma melati, kue-kue tradisional seperti wajik, jadah, serta buah-buahan segar seperti sawo dan duku. Betapa menyenangkan suasana sore itu di dalam rumah tua.

Namun, ukiran prajurit kayu yang diletakkan di atas meja laci berbisik pelan, “Aku tidak sanggup bertahan di sini! Di sini terlalu sunyi dan bening oleh kesunyian! Seseorang yang terbiasa hidup di tengah kehangatan keluarga tidak akan mudah menyesuaikan diri dengan keheningan seperti ini! Hari-hari terasa begitu panjang. Di sini tidak seperti di rumahmu, Suryo, di mana ayahmu membaca Al-Qur'an seusai Maghrib, ibumu menyapa dengan penuh kasih, dan adik-adikmu bermain riang di halaman. Kasihan sekali Kyai tua ini—apakah ada yang mengusap tangannya dengan takzim? Apakah ada pohon kurma saat Lebaran? Beliau hanya menunggu waktu dipanggil Sang Pencipta! Aku tidak tahan lagi!”

“Kamu harus bersabar,” bisik Suryo menenangkan ukiran kayu itu. “Di sini sangat damai, dan Kyai selalu ditemani oleh kenangan serta doa-doa yang indah.”

“Tapi aku tidak bisa melihat doa-doa itu!” sahut ukiran prajurit kayu. “Aku tidak terbiasa!”

“Tapi kamu harus belajar tenang!” kata Suryo.

Tak lama kemudian Kyai Wiryo kembali membawa nampan berisi manisan buah cermai dan wedang secang hangat. Wajah beliau tampak begitu berseri-seri, sehingga Suryo tak lagi menghiraukan kegelisahan si prajurit kayu.

Suryo pulang dengan hati penuh sukacita. Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu. Salam dan anggukan senantiasa terjalin dari jendela seberang, hingga akhirnya Suryo mendapat kesempatan bertamu kembali ke rumah tua itu.

Ukiran peniup seruling di pintu kembali menyambut dengan nada gending yang lembut, baju-baju zirah pusaka bergemerincing, sulaman kain pandan emas bergumam, dan kursi-kursi kayu berderit menderita encok di bagian kakinya. Semuanya masih sama, sebab di rumah tua itu, waktu seolah berjalan begitu lambat.

“Aku sungguh tidak kuat!” bisik prajurit kayu itu lagi saat Suryo duduk di dekatnya. “Aku telah meneteskan air mata dari getah kayuku! Ini terlalu hening! Lebih baik biarkan aku dibawa ke medan perang Diponegoro atau kehilangan lenganku dalam pertempuran! Setidaknya ada pergerakan. Aku tidak sanggup lagi! Sekarang aku mengerti apa artinya dikunjungi oleh bayangan masa lalu; aku pun mulai dikunjungi bayangan rumahmu, dan itu membuat batinku tersiksa karena rindu.

“Aku melihat bayangan rumahmu dengan begitu jelas: saat subuh tiba, kamu dan adik-adikmu berdiri rapi di atas tikar sembahyang, melantunkan ayat-ayat suci bersama ayah dan ibumu. Lalu adik kecilmu, Siti, yang belum genap dua tahun dan selalu bergoyang tiap mendengar tabuhan rebana, masuk ke ruangan—meski ia belum paham gerakan salat—lalu menirukan gerakan ruku' dan sujud namun kehilangan keseimbangan hingga terjatuh pelan. Kalian semua tetap khusyuk meski menahan tawa. Bayangan itu terus berputar di otak kayuku! Katakan padaku, apakah Siti masih suka melompat gembira? Dan bagaimana kabar prajurit kayu kawanku di rumahmu? Ah, dia pasti lebih beruntung! Aku tidak sanggup lagi!”

“Kamu sudah dihadiahkan untuk Kyai,” tegas Suryo pelan. “Kamu harus tinggal di sini. Tidakkah kamu mengerti arti keikhlasan?”

Kyai Wiryo kemudian datang membawa sebuah peti kayu jati berukir. Di dalamnya tersimpan barang-barang bersejarah: tempat tembakau dari perak, kotak minyak wangi cendana, serta kartu-kartu bergambar pahlawan masa lalu. Beliau juga membuka sebuah instrumen gamelan genter kecil yang terbuat dari perunggu tua. Ketika Kyai menyentuh bilah-bilahnya, terdengar nada slendro yang merdu namun redup, lalu beliau melantunkan tembang Asmaradana dengan suara halus.

“Dahulu, almarhumah istriku sangat menyukai tembang ini,” gumam Kyai Wiryo sambil menatap lukisan di dinding. Matanya berbinar penuh kehangatan rindu.

“Aku harus pergi! Aku harus bertarung!” teriak prajurit kayu itu tak tahan lagi. Ia menggoyangkan dirinya hingga terjatuh dari atas meja laci, meluncur cepat ke lantai kayu.

Ke mana ia pergi? Kyai Wiryo dan Suryo mencari ke setiap sudut ruangan, namun ukiran kayu itu telah hilang. Celah papan lantai tua itu terlalu lebar—prajurit kayu telah terselip jatuh ke dalam rongga bawah panggung rumah, terbaring di dalam kegelapan tanah di bawah lantai.

Hari itu berlalu, dan Suryo kembali ke rumahnya. Minggu-minggu berganti bulan. Musim hujan keras menerpa kota; kaca jendela rumah Suryo sering tertutup embun tebal hingga ia harus mengusapnya untuk melihat ke seberang. Di sana, air hujan deras mengguyur ukiran-ukiran kayu rumah tua; dedaunan gugur menutupi undakan tangga batu, seolah tak ada lagi kehidupan di dalamnya.

Dan memang tak ada lagi orang di sana—Kyai Wiryosastro telah wafat dengan tenang dalam sujudnya.

Pada suatu sore, sebuah keranda berlapis kain hijau berkaligrafi tampak diusung dari pintu depan. Jenazah Kyai Wiryo diantarkan menuju pemakaman keluarga di pinggir kota. Tidak banyak kerabat yang mengiringi, sebab kawan-kawan seangkatan beliau telah lebih dulu berpulang. Suryo berdiri di tepi jalan, menangkupkan kedua tangan mendokakan almarhum saat keranda itu diusung berlalu.

Beberapa hari kemudian, barang-barang di rumah tua itu dilelang dan diangkut. Suryo memperhatikan dari jendelanya bagaimana orang-orang membawa pergi lukisan-lukisan tua, pot tanah liat bergambar wayang, kursi Jepara, serta lemari-lemari kuno. Lukisan wanita berkerudung tipis itu dibawa kembali ke Pasar Johar, tergantung di sana tanpa ada lagi orang yang tahu kisah di baliknya.

Ketika musim berganti, pemerintah kolonial memerintahkan rumah tua itu dirobohkan karena dianggap sebagai bangunan terlantar yang berbahaya. Dari jalanan, orang-orang dapat melihat bagian dalam ruangan yang dulunya dilapisi anyaman pandan berbenang emas kini teroyak; tanaman sirih dan pakis dari serambi tergantung layu di antara balok-balok kayu jati yang dirobohkan.

“Akhirnya pemandangan jalan ini terlihat rapi,” kata pemilik rumah-rumah modern di sekitarnya dengan lega.

Bertahun-tahun kemudian, di atas lahan bekas rumah tua itu, dibangun sebuah rumah bertingkat yang bersih dengan taman bagian depan yang asri. Pagar besi tempa yang baru dipasang mengelilingi halaman, dan tanaman anggur Jawa merambat indah di dindingnya. Burung-burung gereja berkumpul di antara sulur tanaman, berkicau riang tanpa pernah tahu sejarah rumah tua yang pernah berdiri di sana—sebab waktu telah menghapus ingatan itu.

Anak kecil bernama Suryo kini telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang arif, seorang sarjana hukum sekaligus tokoh masyarakat yang dihormati. Ia baru saja menikah dengan seorang wanita shalihah bernama Anisa. Mereka memilih tinggal di rumah baru yang memiliki taman tersebut.

Pada suatu sore, Suryo berdiri mengawasi istrinya yang sedang menanam bibit Bunga Kanthil di taman depan. Anisa menggali tanah gembur dengan sekop kecilnya, lalu memadatkannya dengan jemari tangannya.

“Aduh!” seru Anisa tiba-tiba. Jaringannya tertusuk sesuatu yang tajam dari dalam tanah.

Suryo mendekat dan melihat sebuah benda keras mencuat dari dalam tanah gembur.

Benda apakah itu? Ya, tebakanmu tepat! Itu adalah si ukiran prajurit kayu jati—prajurit yang dulu hilang di rumah Kyai Wiryosastro, terperangkap di antara reruntuhan kayu dan tanah selama puluhan tahun.

Anisa membersihkan tanah yang menempel pada ukiran itu, pertama dengan sehelai daun, lalu menyekanya dengan saputangan kain katun miliknya yang beraroma wangi minyak mawar. Aroma wangi itu seolah membangkitkan prajurit kayu dari tidur panjangnya.

“Coba kulihat,” kata Suryo. Ia mengamati ukiran tersebut, tertawa pelan, lalu menggelengkan kepala. “Mungkinkah? Benda ini mengingatkanku pada kisah prajurit kayu yang kupunya saat masih kecil!”

Suryo kemudian duduk di bangku taman bersama istrinya, menceritakan kisah tentang rumah tua, kebaikan Kyai Wiryosastro, dan bagaimana ia memberikan ukiran prajurit kayu itu kepada sang Kyai agar beliau tidak merasa kesepian. Suryo menceritakannya dengan begitu tulus hingga air mata tergenang di sudut mata Anisa.

“Mungkin saja ini memang prajurit kayu yang sama!” ujar Anisa tersenyum tersentuh. “Aku akan menyimpannya dengan baik dan merawatnya. Tapi kelak, tunjukkan padaku di mana makam Kyai tua yang dermawan itu!”

“Aku sendiri tidak tahu pasti di mana letak persis makamnya,” sahut Suryo pelan. “Semua kawannya telah tiada, dan waktu itu aku masih terlalu kecil.”

“Betapa sangat, sangat kesepiannya beliau di masa tuanya,” bisik Anisa penuh empati.

“Sangat, sangat kesepian!” bisik ukiran prajurit kayu itu dalam hatinya. “Namun sungguh membahagiakan mengetahui bahwa kebaikan dan amalnya tidak pernah dilupakan!”

“Sangat membahagiakan!” sahut sebuah suara halus dari balik tanah. Tak ada yang mendengarnya selain si prajurit kayu; suara itu berasal dari serpihan anyaman pandan berbenang emas yang telah tertimbun tanah dan menyerupai tanah liat basah. Namun serpihan itu masih menyimpan prinsip hidupnya:

“Kilau emas bisa pudar oleh zaman,

Tapi ketulusan anyaman pandan bertahan dalam iman!”

Dan kali ini, si prajurit kayu percaya penuh pada kebenaran kalimat itu.