Dari Balik Topeng

*Peringatan pemicu: kekerasan seksual.

Sudah diputuskan, Mulya adalah ketua umum baru yang akan menahkodai himpunan dalam beberapa waktu ke depannya. Ia dipilih hampir forum karena visi dan misi yang diusungnya. Arak-arakan meriah mengiringi kemenangannya, ia digadang-gadang sebagai pembawa harapan, dan akan membawa angin segar.

Akan tetapi, Karin melewatkan itu. Pada hari yang sama, di sebuah kamar hotel, petugas menemukan dirinya dalam kondisi tidak lagi bernyawa. Secara mengenaskan, ia tergeletak dalam bak mandi yang digenangi darah dan terdapat luka-luka sayatan yang memenuhi tubuhnya.

***

22 Agustus 2024

Karin yang belum seumur jagung menjadi mahasiswa ingin mengukir sejarahnya sendiri, ingin mengenal lebih jauh seluk-beluk pergerakan mahasiswa. Ia berdiri diantara lautan massa yang bertumpah ruah di jalanan, karena merasa muak karena ulah rezim. Meski bermandikan sinar matahari, semangatnya tak surut sedikit pun. Warna bendera organisasi, warna almamater kampus boleh berbeda, tetapi bersatu pada saat nyanyian perjuangan mengalun, bersahut-sahutan yel-yel perlawanan. Spanduk dibentang, pamflet-pamflet diangkat, tertulis: “Peringatan Darurat!”, “Lawan Politik Dinasti!”, “Kawal Putusan MK!”.

Dituntun mobil komando yang melaju lamban seperti siput. Orator-orator naik silih berganti, dari atas mimbar gestur seorang tokoh revolusioner ditiru. Tangan terkepal, suara menggelegar membuat langit seakan-akan mau diruntuhkan. Karin sangat berdecak kagum pada salah satu orator, Mulya namanya. Bagaimana tidak? Beberapa kali ia disuruh naik untuk berorasi. Namun rasa malunya hanya ditutupi dengan senyuman.

Sampainya di tujuan, situasi tegang. Dari depan gerbang masuk ke halaman gedung, ban bekas dibakar dan mengepul asap hitam. Lautan massa bagai gelombang besar, siap melumat habis apa pun yang ada di hadapan. Aparat bersiaga, menunggu perintah atasan untuk melakukan represi. Tiba-tiba amarah yang menyulut itu teduh, saat berhembus kabar bahwa di pusat bersepakat untuk menghentikan revisi kilat undang-undang yang menjadi karpet merah dinasti politik dibangun. Sorak-sorai kemenangan pun dirayakan.

Dalam perjalanan pulang, bayang-bayang terus berputar dalam benak Karin. “Wahh orang yang tadi itu...” bisiknya dalam hati. “Tampangnya boleh garang karena rambut gondrongnya itu, tapi ia sangat ingin agar aku bisa sepertinya.”

***

Beberapa hari setelahnya, saat berjalan-jalan menyusuri taman kampus, dari kejauhan Karin melihat Mulya yang sedang duduk membaca buku di bawah pepohonan. Sedikit gugup, langkahnya di perlambat, ia memberanikan diri untuk mendekat.

“Permisi... bang Mulya.”

“Eh... kamu? Kamu yang kemarin kan?” Mulya memandangi, menutup bukunya. “Siapa namamu? Saya lupa, hehehe...”

“Saya Karin...” sambil tersenyum kikuk, jari-jari saling mengait. “Saya sengaja memang ingin bertemu sama Abang.”

“Oh iya? Ada apa?” Mulya menyuruhnya duduk di samping.

“Saya mau menjadi aktivis,” Karin menjawab sedikit malu-malu, mulai duduk perlahan. “Saya mau seperti Abang Mulya...”

“Hmmm... mau jadi aktivis ya?” menoleh ke Karin dengan senyum tipis.

“Iya. Saya masih awam soalnya. Yang kemarin itu, waktu Abang panggil itu, saya cuma senyam-senyum saja. Karena banyak hal yang belum saya pahami,” dengan anggukan pelan.

“Karin? Apa kamu sudah ikut organisasi?” nada datar, penuh perhatian.

“Belum. Saya masih pilah-pilah, Bang...” sambil menggeleng.

“Nah. Ini dia...” Mulya mulai memandangnya serius, coba meyakinkannya. “Artinya kamu harus ikut pengkaderan.”

“Pengkaderan? Apa itu?” Karin juga serius memandang Mulya, dengan matanya berbinar.

“Pengkaderan itu tempat kau belajar banyak hal dan membentuk cara berpikirmu menjadi kritis. Pengkaderan adalah tahap awal, kalau ingin menjadi aktivis. Sebelumnya aku juga begitu.”

“Apakah menjadi aktivis itu wajib untuk ikut organisasi, Bang?” tanya Karin lagi, sambil coba mencerna penjelasan yang barusan ia dengar.

“Sebenarnya tidak wajib,” Mulya terkekeh kecil. “Tetapi, organisasi akan memberimu arah. Kalau tanpa arah, semangatmu bisa habis sebelum tahu mau ke mana...” terus coba meyakinkan.

“Baiklah, Bang Mulya. Intinya saya mau belajar. Terima kasih ya... sudah menyempatkan waktunya.” Karin tersenyum dan mulai yakin.

***

Hari pengkaderan tiba, kegiatannya sekitar empat hari. Di sebuah aula, pijar lampu menyala benderang, para peserta duduk bersila. Suasana yang terasa baru bagi Karin, juga teman-temannya.

Saat berdiri mendedah materi: Risalah Dasar Perjuangan, kata demi kata yang keluar dari mulut Mulya terasa menyihir. Kata-kata itu, dirajut dari bacaan yang sudah ia kunyah. Para peserta dihujani istilah-istilah yang membuat mematung, sesekali kepala mengangguk-angguk. Papan tulis pun dipenuhi dengan corat-coret spidol. Lagi-lagi, Karin berdecak kagum. Ia terhanyut akan pesona Mulya, rasanya ada pintu yang terbuka lebar untuknya—meski belum sepenuhnya dipahami, tetap ia ingin memasuki.

Pada hari terakhir pengkaderan, setelah ikrar diucapkan, Karin dipanggil maju ke depan, ia menjadi peserta terbaik. Mulya memberinya setumpuk buku bacaan, mulai dari novel, filsafat, gerakan sosial, feminisme, dan masih banyak lagi. Buku-buku itu diterimanya dengan dahi mengernyit, karena judul-judulnya yang terasa berat, belum lagi isi dan pembahasan di dalamnya.

“Dibaca pelan-pelan, nanti kita diskusikan...” Mulya memandanginya dan terus meyakinkannya. “Karin, kau itu berbeda dengan peserta yang lain. Kau sangat antusias, punya potensi yang besar. Oh iya satu lagi, kalau ada apa-apa jangan lupa sampaikan saja ke Abang.”

“Iya, Bang. Terima kasih banyak atas ilmunya beberapa hari ini,” jawabnya dengan keyakinan penuh, tanpa rasa ragu sedikit pun. Karin pulang dengan rasa bangga dalam dirinya.

***

Menjadi bagian dari organisasi, Karin menyemai hari-harinya dengan membaca, berdiskusi dan sesekali turun ke jalan sebagai orator. Seiring waktu, ia begitu yakin, Mulya adalah sosok yang tepat. Sosok yang siap mendidiknya menjadi aktivis perempuan yang kritis dan progresif.

Tibalah pada hari itu, Mulya mengajaknya datang ke rumah. Konon, ada buku-buku langka yang tak boleh sembarang orang lain lihat. Rasa ragu sedikit mengendap dalam diri Karin, tetapi tidak ia pedulikan.

Sampainya di sana, semua berjalan seperti yang dibayangkan. Mereka duduk berdiskusi seperti biasanya. Saling bergantian menjelaskan, saling bergantian mendengar, dan saling bergantian mengangguk. Mulya tiba-tiba berhenti bicara, tidak kuat menahan hawa yang bergejolak dalam dirinya.

“Karin... kau jangan terlalu tegang diskusinya,” kata pelan, mencoba merayu Karin. “Ini adalah sesuatu yang alamiah... tiap manusia memilikinya.”

“Heh? Karin mulai panik, merasa tidak nyaman. “Apa maksudnya ini?”

Tetapi, Mulya sama sekali tak menghiraukan. Ia terus menghimpit Karin mundur ke sudut ruangan. Sudah gelap mata, tangannya menyentuh secara sepihak. Tanpa disetujui Karin sedikit pun.

“Jangan lakukan ini, Bang! Hentikan!..” protes Karin dengan suara yang gemetaran.

“Ah kau ini... jangan pura-pura. Saya sudah bilang ini alamiah. Masa kamu tidak paham. Ayolah Karin!” Mulya memaksa, leher Karin dicekiknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya melucuti jilbab dan baju yang dikenakan.

Karin hanya menangis, tak berdaya dilakukan seperti itu. Dengan sisa tenaganya, ia menarik rambut Mulya dan berhasil melepaskan diri. Ia sangat gemetar, napasnya terengah-engah. Amarah, rasa percaya berkelindan dalam dirinya.

“Apa maksudnya ini? Apa!? Apa!? Ayo katakan!” tuntunnya.

“Yang barusan itu spontan. Abang terbawa suasana...” Mulya medengus kecil, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Hah? Spontan?”

“Jangan salah paham. Semua ini bisa dibicarakan baik-baik. Kita sudah dekat dan saya kira kamu juga maklu—”

“Cuihhh... menjijikan!” Karin dengan cepat memotong sambil menunjuk-nunjuk. “Ternyata, ini adalah kedok untuk menutupi perbuatan bejat seperti ini. Sungguh biadab!”

“Hei... hati-hati kau! Awas kalau ini disebarluaskan!” Mulya bersikukuh membela dirinya dan mengancam.

Muak. Tak mau lagi mendengar sepatah kata pun, Karin meraih tasnya. Ia meludah ke wajah Mulya dan segera pergi dalam keadaan menangis. Tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi.

***

Sejak kejadian itu, Karin mengasingkan dirinya. Hari-harinya sudah terasa hambar. Membaca tak lagi menyulut gairah, apalagi berdiskusi. Ia lebih sering duduk sendirian, menatap kekosongan dan di dalam kepalanya berkecamuk pertanyaan-pertanyaan yang berenang dan berputar tanpa henti. Mulya, sosok yang sebelumnya ia kagumi, ia yakini sebagai panutan, telah menjelma menjadi momok menakutkan yang menghantui benaknya. Setiap kali bayangan itu muncul, napasnya tercekat, dan tubuhnya seakan mengingat sesuatu yang ingin sekali ia lupakan.

Mencoba untuk menahan semuanya sendirian, kerisauan itu terus bergelayut. Dengan sisa keberanian yang masih ia kumpulkan, Karin melaporkan kejadian itu kepada Hilda, bidang keperempuanan. Harapannya: didengar.

“Kak… saya ingin bicara,” ucapnya pelan.

“Tentang apa?”

“Bang Mulya...” dengan kata yang terbata-bata. “Waktu itu… dia menyentuh saya. Secara sepihak, tanpa persetujuan saya.”

“Karin? Kau tidak salah paham kan?,” jawabnya dengan nada dingin.

“Tentu, tidak salah paham, Kak.”

“Kau ini kenapa sebenarnya? Membuat desas-desus palsu tentang Mulya” sambil menggeleng, tidak percaya. “Ada apa ini? Sebuah konspirasi untuk menjatuhkannya?”.

Karin hanya terdiam, menatapnya tak percaya.

“Hal-hal seperti ini tidak terjadi begitu saja. Api tidak akan menyala dengan sendirinya. Kau paham, kan?”

Usai percakapan itu, alih-alih mendapat perlindungan, dengan dalih: nama baik organisasi. Karin dibungkam. Mengingat, momen musyawarah sudah dekat. Dan Mulya, adalah calon ketua umum.

***

5 Februari 2025

Ingin membuang dirinya jauh-jauh dari dunia yang rasanya tak memihak padanya. Karin pergi ke sebuah hotel, kamar nomor 1947 ditempatinya. Segala unek-unek yang dipendam, akhirnya meledak-ledak. Tangisnya makin tak terbendung, saat mendapat kabar: Mulya, sosok yang bejat itu, terpilih sebagai ketuanya.

Semakin tak terkendali. Karin memecahkan kaca rias di hadapannya. “Ah sialan” tangannya menggenggam serpihan dan mulai mencabik-cabik wajah dan beberapa bagian tubuhnya sendiri. Darah mulai bercucuran. “Kenapa si brengsek itu... mereka justru melindunginya Mengapa?Mengapa?!..” teriaknya.

Segera Karin menuju ke kamar mandi, lalu menceburkan dirinya ke dalam bak. Air yang jernih pun berubah jadi keruh kemerahan. Ia tak lagi peduli pada rasa sakit dan perih yang menjalar di sekujur tubuhnya. Matanya menatap kosong, seolah tak ada lagi yang tersisa untuk dipertahankan, hingga akhirnya roh dan jasadnya berpisah. Itulah akhir hidupnya. Sedangkan jauh di luar sana, seseorang dipuji sebagai teladan. Dilindungi atas nama baik, bersembunyi di balik topeng. Dan dari balik topeng itu, ia mengintai Karin-Karin yang lain.

Yogyakarta,

Gang Pandega Wreksa, 4 Juni 2026.