Cinta Ialah Selaput Moluskum
Mau diapakan hidup tanpamu? Seringkali, di malam bolong mencuat lara yang menjelma bajingan tengik dan sudah kesekian sesat diri berbentur dengan jalan buntu, maupun di setengah perjalanan ku temui pengembara lain namun tiada satupun sepertimu—dengan lugas membuat hidup kembali bangkit tanpa mimpi buruk.
Aku harus melanjutkan hidup walau perlu dengan gagah sekarang, seperti yang tidak pernah kau saksikan sebelumnya. Akan tetapi. Sungguh, jika diri ini rela menunggu, akankah ada kepastian di ujung kulit pucatku agar dapat memejamkan mata rindu sejenak saja? Maka selama menunggu, takkan sebegitu kelam.
Pada akhirnya dirimu kan menggondol relung sukma seorang tanpa iba; aku selalu pontang-panting merayakanmu semampunya. Pukul menunjukkan genap 10 tahun. Usai selalu ganjil, takdir sudah menua dan usang, kediaman jarak sahaja yang menjadi musuh bebuyutan. Bilamana Kerinduan memiliki geraham, ke tujuh langit akan dilahap dengan rakus dimanapun jejakmu tersangkut.
Tidak akan lenyap dirimu dalam cawan yang lupa daratan, Sementara terus ia meminta dijunjung sebinal mungkin.
Lantas harus kuapakan hidup tanpamu? Kewarasan sudah menjadi retakan batu nisan, dengan napas tersengal-sengal menyerukan namamu. Mustahil tuk kembali. Berapa banyak lagi jiwa ini harus ku jual demi membangkitkanmu kembali? Hati ini telah mati namun dua atau tiga kali lipat, dapat bangkit lebih mematikan. Di dalamnya kini bukan hanya berisi cat merah cerah ataupun biru merona; melainkan hati tumbuh lebih liar dan lacur, kan kau rasakan nanah, darah, rintihan, atau jika beruntung kau dapati buah ceri di dalam.
Untuk apa hidup tanpamu? Konon cinta terinfeksi moluskum. Mengobati tak cukup dengan kau cungkil bahkan dibakar hidup-hidup—dada ini lantas harus dibelah, lalu paksa ia keluar segala serat-serat takdir yang ku imani secara berdosa dalam jantungku. Lumatkan setiap detak secara terus-menerus bersabda akanmu. Agar segala delusi bukan lagi sebagai sarang penyakit.
Bukan hanya bisa membuahi moluskum, terkini cinta dapat menjadi kutukan. Oh cinta, cinta, dan cinta! Tiadakah hal lain yang dapat menodai selain dirimu! Cinta membiakkan moluskum, menular dan tercemar nama baiknya. Setelahmu, cinta bak wujud belati akan sigap menghunus kapanpun, engganku menghela napas terakhir secara sia-sia. Malah lucunya, walau di dalam jeruji bersamamu, itulah mimpi sepanjang malam yang masih tertidur—rekam medis memvonis walau sekarat pun kita nyaris memiliki segalanya!
Semakin aku mencintaimu dengan keterlaluan, semakin jua kau jumpai luka-luka bakar sebagai tanda tidak mengenal usai. Membekas pedih. Getir mengungkap bahwasanya raga inilah yang selalu menuntun jalanmu pulang. Sepi kian membusuk dan hatimu seolah terisi belatung-belatung untuk mengusir. Hatimu tlah hilang ingatan rupanya. Engkau eksis hanya tuk menaati lenyap. Tiada pembeda jauh antara kau, moluskum, cinta, bisul, dan jerawat; sejak kemunculannya seketika setiap musim akan timbul bencana.
Cinta tlah diliputi moluskum kontagiosum. Harus dipaksa mati dengan segera! Kalau tidak, kau akan membusuk! Tepatnya, cinta tidak akan pernah menghadirkan tabib sebagai obat penyembuh.
Apakah di saat kau menata kehidupan terbesit akanku dalam pikirmu? Seperti moluskum-moluskum bermekaran tidak pada waktu dan tempatnya?
Comments ()