Puisi-puisi Adwan SA Nakbaru

KAMBING LACUR

persis sebelum surup terbakar,
cempe mengokop susu bandot
di kandang reot penuh lubang.
toa masjid menyerukan magrib,
induk mereka tak kunjung pulang.

melesat,
rerumputan satu per satu mengisi daftar hadir,
membeludak yang memilih mangkir.

tak ada susu di puting bandot itu,
cempe mengisap kebohongan.

lampu tiap detik kian temaram,
tak ada ketukan pintu dari pemilik susu.

rupanya,

betina itu sedang disesap tuhan.

RACUN

ia menjelma serupa racun,
lebih bahaya dibanding narkoba,
minuman oplosan,
bahkan cairan pel lantai yang ada di penjara-penjara.

sialnya,

kutelan habis ia pagi hingga petang,
siang hingga malam—kecanduan.

aku sakau.
bau bacinnya membuatku delusi,
bulu-bulunya meraba leherku,
inginku nikmati bentuk tubuhnya.

kini ia gaib,
hilang wujudnya setelah aku tak mampu menghadirkan rumput yang ia taguhkan.

aku menyebutnya racun,
yang lain menyebutnya kambing—lacur.

KANDANG DEWAN

lidah merahmu kandang sapi,
saut-menyaut menyeru kata “moo”
lembut bibirmu ceker ayam,
mengais ucapan di bawah kandang sapi.
rayuanmu lidah kucing,
menjilat yang ingin ia jilat.

suaramu gonggongan anjing,
mengganggu.

seisi tubuhmu kebun binatang,
tidak ada manusia di dalamnya.

SAPI

sebatang rokok habis disesap sapi
yang anaknya baru dikurbankan.
lehernya dilukis dengan kuas belati,
matanya mengundang banjir melalui rapalan mantra yang berontak.
sebabnya, masjid kini tenggelam.

orang pertama, mengucap syahadat.
orang kedua, mengucap istighfar.
orang ketiga, syahadat lagi.
begitu seterusnya hingga ratusan lainnya.

“surut. air sudah surut,” teriak tukang jagal.
syahadat kini diganti bismillah,
istighfar menjelma rokok kretek meski basah.

sapi pasrah dengan hidupnya,
tuhan tidak peduli,
tukang jagal menguliti,
dan keluarganya sudah mati.

HEWAN DAN PENYAIR

jari-jari tikus itu busuk.
memungut sumpah, serapah, sampah.
tanpa obat penyembuhan,
tiada ranjang istirahat,
nihil rumah untuk tinggal.
dan memang begitu,
sebab tiada tempat pulang.

jari-jari penyair itu busuk.
lupa cara memungut kata,
dan mesin tiknya meleleh dibakar asmara.
memang begitu,
sebab tak lagi menulis,
dan lupa jalan pulang.

kini sisa serpihan tanya,
apakah tikus adalah penyair,
atau penyair adalah tikus?
sebab kini:
di tanah ini,
mereka tak berbeda.


Biodata penulis
Cahya Adi Saputra adalah namaku. Tapi lebih senang dikenal dengan nama pena: Adwan SA. Seorang mahasiswa yang sedang menjalani keseharian menjadi penulis. Lahir di Banyuasin, Sumatera Selatan, 22 tahun yang lalu. Sedang mengasuh puisi on the spot di Kota Palembang, juga salah satu anggota aktif Komunitas Opus Sastra yang bergerak di bidang kesusastraan. Sedang membina, menafkahi, dan mendidik kumpulan sajak untuk akhirnya lahir sebagai entitas bernama buku di akhir tahun ini.