Hierarki dalam dunia kopi kita

Dari Kota Besar Sampai Pelosok, Semua Orang Butuh Kafein

Mulai dari kota besar sampai kota kecil hari ini dipenuhi dengan coffee shop, tren yang beberapa tahun ke belakang sangat ramai hingga menjadi fenomena sosial. Penikmat tren kopi sendiri bukan hanya dari kalangan orang dewasa yang pening gara-gara kerja kantor yang enggak kelar-kelar, anak-anak sampai remaja pun turut meramaikan fenomena ini. Enggak heran kalau lowongan kerja jadi barista atau waitress akhir-akhir ini bejibun.

Butuh Mental untuk Sekedar Pesan

Sekilas memang normal saja, tinggal pesan lalu duduk dan menikmati kopi. Tapi ada hal sepele yang kadang bikin malas buat dine in dan memilih buat dibawa pulang aja, apalagi kalau bukan penghakiman dari mereka si penikmat kopi sejati.

Di antara banyaknya varian yang terpampang di menu kasir, tentu membutuhkan waktu beberapa saat buat bacain semua menunya. Apalagi akhir-akhir ini improvisasi dari kopi banyak banget, mulai macchiato sampai hazelnut. Akibatnya timbul sedikit rasa sungkan, apalagi kalau antrean di belakang banyak ditambah lirikan tipis barista yang seolah bilang, "Ngopi apaan pakai gula?"

Americano dan Pengagumnya

Dari sini mulai muncul hal-hal aneh yang sebenarnya bukan masalah besar, tapi entah kenapa bagi beberapa orang bikin malas. Semua orang juga tahu kalau kopi yang asli adalah Americano tanpa dibumbui dengan perasa-perasa aneh. Bagi beberapa orang, kopi itu harus murni dan enggak boleh dicampur apa pun biar rasa pahit dan filosofinya dapat kata mereka.

Americano sendiri merupakan espresso shot yang ditambahkan dengan air, bisa dinikmati dengan sensasi dingin ataupun panas. Berbeda dengan varian kopi lainnya yang banyak diimprovisasi dengan berbagai rasa-rasa menarik, seperti campuran cokelat, perasa buah, dan yang paling unik dan anehnya banyak peminatnya yaitu Matcha Espresso. Hal ini menunjukkan bahwa menikmati kopi enggak selalu tentang Americano, ini masalah selera.

Tentunya, idealisme kopi mereka enggak berlaku buat semua orang. Ada orang-orang yang memang lebih suka kopi dengan beberapa improvisasi rasa, misalnya yang paling populer kopi dicampur susu atau biasa disebut caffè latte. Entah muncul dari mana label bahwa orang yang enggak pesan Americano berarti dia enggak ngerti kopi, atau mereka yang pesan selain Americano bukan suka kopi tapi cuma suka gulanya, dan stereotip-stereotip lainnya.

Ternyata Dunia Kopi Juga Rumit

Sepertinya memang bukan hanya hukum yang punya hierarki, dunia kopi juga. Ibaratnya, orang yang menyukai Americano menduduki peringkat satu, kemudian orang yang pesan kopi dengan tambahan susu menguasai peringkat dua, dan peringkat tiga diambil oleh mereka yang pesannya kopi dengan berbagai tambahan rasa. Ternyata bukan hanya bernegara yang sulit dan berisiko, ngopi juga.

Kadang saya bingung kenapa mereka begitu mengagungkan segelas Americano, dan sejak kapan menikmati kopi pahit tanpa tambahan gula menjadi simbol maskulinitas atau bahkan dipersepsikan sebagai simbol kedewasaan? Ayolah Kawan, itu hanya sekadar es dan seduhan biji kopi hitam.

Berbeda Lidah, Berbeda Pilihan

Bagi beberapa orang menikmati kopi merupakan pelarian paling aman dari berbagai hiruk-pikuk kehidupan. Terkadang seseorang hanya perlu menepi ke warung kopi ketika merasa dunianya sedang tidak baik-baik saja untuk menyeduh kopi yang dia suka, tidak penting jenis dan varian kopi yang seperti apa. Lagipula sejak kapan pengetahuan kopi seseorang hanya ditentukan berdasarkan segelas Americano? Hal tersebut keliru dan tidak berdasar.

Setiap orang berhak untuk mempunyai selera, begitupun para penikmat kopi. Memesan kopi dengan atau tanpa pemanis tidak juga mengurangi pengetahuan dan kenikmatan seseorang soal kopi. Menikmati kopi apa pun merupakan hak setiap orang tanpa merasa dihakimi.