Catatan Lantai Perpustakaan

Aku sudah pilih yang waktu itu aku rasa masuk di akal. Sekarang, semua kembali seperti semula: cemas. Mungkin cemas. Aduh, bangsat. Pokoknya, mencekik: perlahan, merdu, lengang, perih, geli. Anjing. 

Waktu persiapan pameran, aku sibuk. Sibuk, sibuk, berkali-kali, sibuk. Sialan. Di dalam galeri aku menjahit perasaan buatan untuk melenyapkan aku dari pandangan orang-orang. Anjing. Sibuk.
Kenapa sih? Mesti pameran? Kenapa tidak dapat kerja saja? Biar pulang kerja bisa nonton pameran, terus jatuh cinta.
Aih. Cinta.
Karyawan jatuh cinta sepertinya lebih enak dari
seniman jatuh; cinta.
Tiba-tiba, Kupu-Kupu datang: bertamu. Ia langsung menyantap jahitan-jahitan perasaan yang sedang aku pegang-pegang.
Sebentar dong! Belum dibuka!
Memangnya kalau belum dibuka tidak bisa disantap?
Yasudah. Santap saja. Silahkan! Sialan.

Aku dan Kupu-Kupu berlari mengelilingi galeri. 
Enak. Rasanya. Seperti bersandar pada pundak orang asing, lalu pingsan; begitu saja.

Setelah bangun dari pingsan di pundak orang asing; begitu saja. Aku tidak bisa membaca, aku tidak bisa melamun, aku tidak bisa menggambar, aku tidak bisa menulis. Aku tidak bisa memasukkan lagi yang masuk akal dari membaca, melamun, menggambar dan menulis ke dalam lubang hidung. 

Semuanya jadi berserakan, berantakan, di lantai perpustakaan; bersama dengan ingus basah dan ingus kering yang aku siksa biar bisa masuk ke lubang hidung.
Mabuk, mabuk, mabuk. 
Mungkin kalau mabuk, revolusi bisa terjadi dalam lubang hidung. Rambut-rambut dalam lubang hidung berontak; mencari apa yang ingin mereka raba.
Aku biarkan revolusi terjadi dalam lubang hidung. Yang lain; menyusul.
Mabuk, mabuk, mabuk, mabuk, mabuk, mabuk.
Aih. Seluruh tubuhku melakukan revolusi.
Aku jadi negara: celaka.

Pasca revolusi, aku hanya bisa menggambarkan semua tentang diriku seperti selangkangan.
Sialan.
Anjay.
Kemudian, aku harus mengatakan itu kepada semua orang. Memalukan! Memalukan! Selangkangan! Sialan!


Kemudian.

Kamu datang.                            Anjing. Malu. Bangsat.

Aku merubah gambaran tentang diriku dengan paksa. 
Revolusi kini aku paksakan.
Tubuhku; seperti rakyat. Aku tetap; seperti negara: celaka.
Sekarang.
Aku tidak lagi seperti selangkangan.
Sekarang.
Aku            seperti belahan pantat.
Aih.                          Bangsat.

Kemudian aku: seperti belahan pantat.
Mencari-cari cara; untuk menangkap mata: kamu. 
Mau aku jepit.
Aih.

Tapi kamu membuat belahan pantat menguap.
                       Aku jadi abstrak:
konsep yang membayang-bayangi pikiran.
                              Pikiran cemas.

Semenjak itu.
Semenjak kamu.
Setiap sore aku kedatangan tamu:

  • menyapu.
  • daun.
  • pelangi.

Pada mereka aku sering bercerita:
Apakah sensasi ini bisa lenyap di antara percakapan-percakapan biasa?
Kemudian membosankan?
Kemudian memuakkan?
Kemudian mengerikan?
Kemudian tabrakan?
Kemudian aku kembali seperti selangkangan?

                                      Aih.
Ternyata aku kewalahan.
                                       Ya.
Kewalahan memamah pandangan yang memabukkan:


Kamu.

- Catatan Lantai Perpustakaan.

  Depok, Agustus, 2024.