Puisi-puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Berjalan

Aku menembus belantara kata
untuk menemukan tetumbuhan cinta.
Setelah kutemukan,
aku menanamnya di halaman hatiku.
Tidak lama berselang,
tumbuhan itu telah berbuah
menjadi puisi-puisi
cinta.

Purbalingga, 2026

Berkeluarga

Kadang aku ingin bertanya pada-Mu
wajibkah seseorang membangun keluarga?
Sedang pada mulanya Adam adalah
pengelana sunyi yang diciptakan seoarang diri
Apakah Engkau memiliki maksud lain dengan
tidak menurunkan Adam-Hawa dalam satu paket.
Apakah kesiapan menjadi dasar
untuk momentum bertemunya
ayah ibu umat manusia?
Sedang, siapakah yang akan
memberi tanda kesiapan kapan kami berkeluarga?

Purbalingga, 2026

Bahasa Umat Manusia

Ya Sulaiman,
ingin aku kabarkan padamu
bahwa bahasaku telah terpapar
oleh benci dan serapah.
Jika engkau berkenan,
aku ingin mengaji bahasa hewan padamu.
Setidaknya aku masih bisa
melerai penat dan jenuhku dari
caci maki bahasa manusia.

Purbalingga, 2026

Pujangga Sejati

Apa yang kalian harapkan dari seorang pujangga?
Sajak-sajak yang bermandikan cinta tidak akan lahir begitu saja
Ada permenungan tajam melebihi analisis seorang akademisi
Ada diam yang tidak bisa dimengerti akal budi manusia
Ada resah yang memecah gelombang laut jiwa

Pujangga sejati bukan
ia yang buta pada cinta duniawi.
Melainkan ia yang menengadah
pada hujan hikmah surgawi.

Melihat yang tidak tereja mata
Mendengar yang tidak berbunyi di telinga
Meraba yang tidak bisa dipegang tangan hampa

Purbalingga, 2026

Pembicaraan Pujangga pada Sapu

Bisakah kau membersihkan
sosial media dari
serapah bahasa manusia?

Purbalingga, 2026