> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://taratsa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Puisi-Puisi Supali Kasim
- URL: https://taratsa.id/puisi-puisi-supali-kasim/
- Published: 2026-09-20T03:09:28.000Z
- Updated: 2026-09-20T03:09:28.000Z
- Author: Supali Kasim
- Tags: Puisi

## Permainan Gawai

aku kini gawai, tubuhku gawai  
seluruh anatomi dan jaringan sel saraf  
seperti rupa bumi  
panorama raga  
lalu anak-anakku, diam-diam, mencuri-curi  
terkilau cahaya  
pada lorong-lorong gim, video, animasi   
betapa tak mampu menahan  
baterai lemah, kapasitas terbatas

aku kini gawai, Cupu Manik Astagina  
seluruh konektivitas dan perangkat lunak-keras  
seperti Batara Surya  
sinyal Dewi Windradi   
lalu tiga anak itu, diam-diam, mencuri-curi  
terpukau semesta  
kejernihan, keajaiban, Telaga Sumala  
betapa gawai menyedotnya  
jiwa berubah, kulit jadi kera 

aku kini sesal, dalam daring sesal  
seluruh aplikasi dan sinkronisasi  
seperti nirkabel  
diam-diam merasuk Anjani, Subali, Sugriwa  
diri sendiri, terpukau  
gawai di tangan, semesta telah memainkan  
betapa aku, betapa Resi Gotama  
dengan layar sekali sentuh  
anak-anak korban alpaku

2026

## Apakah Penyanyi 

betapa tersudut arti penyanyi  
sudut istana  
atau sudut café, pub, karaoke, diskotik  
dianggap menggelitik

dalam galau Basudewa  
istana Mandura  
tak berputra sekian lama  
penyanyi itu, di sudut istana itu, Ken Yasoda  
akhirnya turunkan putra  
juga pada akhirnya, penyanyi lainnya  
di sudut lainnya, Ken Badra  
turunkan putra 

apalah sebuah sudut, seorang penyanyi  
café, pub, karaoke, diskotik  
ladies escort, pemandu lagu  
tenpat galau lalu terpukau

kemudian Ken Yasoda, Nyai Sagopi itu  
turunkan Arya Udawa, patih Mandura  
kemudian Ken Badra, Dewi Badrahini itu  
turunkan Dewi Sumbadra, jelita jagat raya  
kemudian dunia telah memilih  
turunkan cinta tanpa pilih kasih

2026

## Operasi Caesar 

sayatan perut dan rahim ibu  
lorong-lorong sepi tanpa pergulatan terlahir aku   
\--dan bukan hanya itu--  
mata Caesar masih menatap nanar  
terasa benar  
udara, angin, cuaca membawa tanya  
terarah padaku, siapa?

di kamar operasi tiba-tiba  
teringat Kunti, darah remaja, Prita muda  
terarah padaku, melalui telinga, terarah Karna

bukankah doa-doa mengingang  
sembilan bulan tak ada sungsang  
sungai mengalir, angin semilir, harapan berdesir  
ari-ari tak menutup jalan lahir

tapi Caesar membedahnya  
tapi Karna dilahirkannya

dan ibu, darah remaja, masa muda   
bukan kebinalan  
dan Kunti, kekanakan, keluguan  
hanya coba-coba   
bukankah ini anugerah dewata  
lalu seperti main-main dengan mantra

dan ibu, dan Kunti bukankah menemukan   
masih perawan?

maka, aku pun meretas, menerabas  
\--mencari-cari diri--  
udara, angin, cuaca, luka  
dan musim, anomali duka  
sepanjang kemarau  
sepanjang penghujan  
ialah sama  
Karna terbuang, ditemukan sais kereta  
aku terbuang, ditemukan pisau bedah

2026

## Politik Terjawab Kresna

apakah kebaikan, kemudian  
lebih dipilih ketimbang kebenaran

seperti doktrin  
melenting   
menyelusup ke darah, ke sumsum  
pragmatis, siasat  
politik, politisi  
dan perang itu, Baratayudha itu  
dan Kresna merasa berkewajiban

berkibaran sebagai baik-baik saja  
(meski, sesuatu yang buruk)  
benar dan salah dipandang cara pandang  
(meski, kejahatan tetaplah kejahatan)

doktrin, bukan seperti lagi  
pragmatis, siasat  
politik, politisi  
telah terlewati ideliasme murni

kebenaran melenting arti masing-masing  
apalah fakta telanjang  
sekalipun menipu   
maka, siasat Kresna menjelama politisi  
perang, keseimbangan, kekhawatiran  
Baladewa pun tak boleh tahu Baratayudha  
di Grojogan Sewu ia menuruti bertapa

kompromi jadi prinsip   
meski teknis, bukan nilai  
stabilitas, pokok, utama  
\--It is not either this or that. In between--  
maka, Kresna bisikkan sesuatu  
relakan Pandawa kalah dadu  
di hutan terlunta-lunta dua belas tahun 

apalah kebaikan, apalah kebenaran  
mata memandang, saru

2026 

## Atas Nama Negara

bagaimana keping-keping fragmen  
mewujud, tapi hanya bayang  
langit malam, kelam  
betapa sesak luas padang Kurusetra  
ambang Baratayudha

perang ternyata lebih dahsyat di jiwanya  
Dewabrata, Dewabrata  
masygul hatinya

betapa menitis garis pada Kurawa   
betapa menitis garis pada Pandawa  
darah itu gelegak leluhur, karuhun  
Hastinapura linuhung  
Dewabrata dalam Bisma yang agung  
tebersit atas nama negara  
sekeping fragmen dalam sumpah

bagaimana bayang itu  
Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa  
(dalam peluk cinta)  
Duryudana dan sembilan puluh sembilan adiknya  
(dalam peluk cinta yang sama)  
dari kakek buyut, Bisma  
Kuru, Santanu, trah mengalir darah

bagaimana langit malam, kelam  
tapi ia tahu, betapa sekeping fragmen lain   
(tentang kebenaran dan keadilan)  
dan mungkin pilihan itu ada bintang jatuh  
lalu Bisma memungutnya  
bukankah negara di atas segalanya  
Hastinapura dalam sumpah

betapa makin sesak luas padang Kurusetra  
tengah-tengah Baratayudha  
Pandawa dan Kurawa dalam peluk cinta  
Bisma, Bisma  
antara gugur atau mati, berserah nyawa

2026

## Perjalanan Dadu 

apa kaupikirkan tentang bermain dadu?  
mengantar sukma, rasa, tamasya  
bukan titik salah  
“aku suka, semenjak kecil, remaja,”   
Yudistira, maharaja Amarta

dan Sengkuni, dan Duryudana menangkap itu  
dan Bisma, dan Druna terbisu 

“ini hidup terlingkupi judi”  
seperti dadu dilempar  
gulma, tikus, walang sangit, padi adalah gambar  
(dan nasib petani dipertaruhkan)  
dadu diguncang-guncang  
gambar ikan, udang, jaring robek, batu karang  
(dan takdir nelayan diperjudikan)

dan Yudistira, dan Drupadi menanggung itu  
dan Kresna, dan Narada terpaku 

apalagi kaupikirkan dadu?  
harta, istana, saudara sudah terebut  
jati diri telah terenggut  
“tapi Drupadi, sang istri, masih”  
Puntadewa lupa, kitab-kitab minta dibaca  
sebab ada saat bermain, bertaruh, lalu alpa   
dalam lemparan dan putaran dadu  
terlempar, terputar, terlempar, terputar  
dan seterusnya

dan Dursasana memuncak, dan Drupadi terjambak  
dan Kresna turunkan siasat

tak ada lagi terpikir dadu  
iri, dendam, jebakan lebih dituju  
kesenangan semenjak kecil dan remaja  
mengantar sukma, rasa, tamasya  
lalu dadu pun membelok jalannya sendiri  
menuju judi

dan Gendari, dan Kunti tunjukkan amarah   
dan Duryudana terperangah

jadi, apa lagi kaupikirkan tentang judi?  
baik, baiklah   
dua belas tahun dalam pembuangan  
satu tahun penyamaran  
melebur dosa, dewasa jiwa  
“ini takdir tak bisa dipungkir”  
Kresna, titisan Wisnu, memahami hingga akhir

2026 

## Kesetiaan, Kesucian 

mendung tepekur  
doa-doa bertabur  
dan sukmamu tergetar mata tajam candabirawa  
kilaunya, berbayang darah  
sayatnya, regang nyawa  
kelelakianmu dalam gelepar-gelepar ragu  
“Narasoma, Narasoma, ksatria, dicekam ambigu”  
bukankah tak ada yang lebih tulus   
kesetiaan gadis yang telah lulus   
tapi putri raksasa, tapi rela berikan nyawa ayah 

betapa kesetiaan telah melampaui batasnya  
kemanusiaan tidak lagi memiliki tempatnya  
angin hanya bisu  
hambar dan sendu  
“Setyawati, Setyawati, perempuan setia, demi cinta”  
Narasoma, lelaki terpuja  
Bagaspati, ayah terkasih  
dan langit adalah ksatria, dan bumi adalah setia  
dalam perjumpaan agung  
restu linuhung

mendung tepekur, doa-doa bertabur,   
angin hanya bisu, hambar, dan sendu  
tiba-tiba aku disergap cemburu  
jiwa yang tenang  
kauserahrelakan  
“Bagaspati, Bagaspati, harusnya aku, diriku”  
terlalu suci untuk mati  
maka, sukmamu akan kuhirup dalam-dalam  
mengaliri darah sepanjang badan  
menyucikan desa-desa, kota-kota, negara 

2026

Bionarasi:  
Supali Kasim, tinggal di Indramayu Jawa Barat. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023). Buku puisi tunggal berbahasa Jawa Indramayu, Sawiji Dina Sawiji Mangsa (2020) memperoleh Hadiah Sastera Rancage (2021). Bisa disapa lewat email supalikasim123@gmail.com